aku putuskan untuk menunggu, menunggu aku terlelap sekali lagi. setelah matahari mengintip dari balik jendelaku, setelah alarm ku berbunyi berkali kali.
06.00 am
aku tidak juga terlelap, malah aku semakin sadar, sudah terbangun. terbangun dari hibernasi panjangku..
12 jam tertidur dari semalaman.
mematikan alarm, dan mengecek emailku.
satu undangan presentasi di daerah bintaro.
aku masih bermaalas malasan, karena ini jumat dan okey ini jumat. hari termalas dari hari kerjaku.
aku butuh energi untuk masuk kekamar mandi, mandi lalu berpakaian dan mengenakan baju kantor, sepatu pantovel lalu dasi, menyetir di padatnya kota jakarta.
ah tidak aku tidak ingin membuat tenaga, apalagi emosi untuk berteriak, atau mengklakson, untuk sabar melawan trafik yang menjadikan jakarta seperti pulau pulau yang dipisahkan lautnya oleh kendaraannya yang tidak bergerak.
aku seperti sedang mencari kekosonganku dengan mengisinya dengan banyak tanda tanya
aku sedang mempelajari kelemahanku dengan menelanjanginya ci algoritma yang kuprint kemarin malam
aku rasa kolaborasi spontan dan ketakutan akan sesuatu adalah senjata paling mematikan untuk lompat dengan jarak lebih tinggi.
aku menggunakan commuter line pagi itu, satu presentasi digest, 30 menit, satu tawaran rupiah, satu harapan baru, dan satu patokan untuk tetap bertahan memperjelas diri di ketidak jelasan itu sendiri.
mungkin benar, karena samar samar membantuku untuk lebih berhati hati dalam melihat…
celah dan peluang..
suatu pagi di kota jakarta