mengingat bukan untuk mengulang

PEKANBARU…

sudah lama tak pulang ke kota ini, bentuk nya masih sama ditambah dengan pilar-pilar kokh gedung gedung besar dan jalanan yang semakin macet, pagi siang dan malam,  tapi subuh atau dini hari pekanbaru masih tetap tak berubah, tak banyak gemerlap.. kota tenang tanpa banyak masalah..

didalam mobil aku melaju menuju jalan sudirman, tak tentu arah… bingung memutar kemudi ini kemana, sudah lama tak memutari pekanbaru tempat aku tumbuh dari kecil, sambil membuka kaca dan menyulut sepuntung rokok aku masih bingung akan memutar dimana, MP, atau sudirman ujung, ketika belokan MP terlewat oleh jalan searah kanan terpaksa melaju terus sampai sudirman ujung.. mendengarkan lagu sandhi sandoro di cd mobilku, sudah lama tidak seperti ini fikirku.

jalanan setengah macet ketika memutar di putaran antara sudirman-nangka dan toko buku gramedia. melaju terus ke taman makan pahlawan, sambil membunuh kebosanan ini saya sepertinya mulai merindukan kota ini setelah bethaun tak disinggahi…

tiba-tiba teringat masa-masa lalu, ketika masih awal kuliah pulang kepekanbaru dan menjumpai pacar, haha

seperti cerita saja ini

menjemputnya dibandara, menemaninya berbelanja, menunggguinya pulang dari ef

membawakannya makanan karena ibunya diluar kota

nongkrong2 di mana-mana sampai kejar-kejaran dengan polisi hanya karena melanggar lampu merah utnuk menonton film di 21, semuanya..semuanya..

sudah lama sekali itu fikirku, tak pernah lagi bertemu dia selama 4 tahun ini, tak tahu lagi kabarnya setelah dia mengucapkan

” kalo kamu mau pergi pergilah, dan jangan pernah hubungi aku lagi”

aku mencoba menerka-nerka semua kata2 itu dari dulu tapi tak juga kutemukan jawabannya

apakah dia ingin aku pergi atau apalah itu, seminggu setelah ucapan itu keluar aku masih bingung dan akhirnya memutuskan pergi tanpa permisi, dan tragisnya hp ku hilang sehari setelah disana,  menukar ni hp dan menjalani semua lagi sendiri.. benar-benar sendiri

” ah, melow” kataku pelan …

sedang berjalan dikiri, tiba-tiba lewat mobil escudo merah didepanku, dan sepertinya aku kenal dengan mobil itu,

mematikan rokok, menutup kaca dan melaju untuk mengejar mobil itu,

dari belakang terlihat seorang wanita yang mengendarainya seorang diri..

“sial” kataku..

tersadar ternyata itu dia didalam mobilnya, pantas saja aku sepertinya kenal dengannya, memutar otak yang tak kunjung berfikir

kebetulan yang sama sekali tak pernah kuharapkan..

tapi aku tetap megikuti mobilnya yang berjalan pelan dari belakang

memutar otak yang sebenarnya harus lebih besar dari perasaan, dan memutar logika yang terkadang menghasilkan sesuatu yag tak sehat

akhirnya aku memutuskan.

 

sudahlah semua hanya untuk diingat dan bukan diulang

sambil menyalakan lampu sen kekiri aku membuka kaca dan mengklakson mobilnya di sebelah kiri yang terlebih dahulu kupepet,

sambil membuka kaca dia keheranan, aku tersenyum melambaikan tangan yang tidak dibalas apa-apa olehnya, mungkin dia shock melihatku disini, atau mungkin dia berfikir lain

memasukkan perseneling mobilku aku memberi lampu bereblok kekiri dan meninggalkan dia yang lurus menuju simpang tiga

 

semuanya tidak untuk diulang memang….


2 thoughts on “mengingat bukan untuk mengulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s