penghabisan IV

Ada yang salah dengan ini, tepat setahun lalu aku masih membaca smsmu dari indonesia

aku berjalan sendiri di dinginnya malam kota ini, masih pasif dalam siluet tajam hidupku

membatu pada hal yang kuanggap salah walau tak tahu nota kebenarannya

aku kedinginan oleh malam, tapi lebih beku lagi hatiku sekarang.. aku tak ingin banyak berujar akan apapun lagi sudahlah

semua tentangmu sudah padam dimataku, tak kan ada lagi bayangan tentangmu bahkan efek semunya saja sudah hilang harapku

masih ingat ketika aku berbincang kecil denganmu dibandara sebelum kepergianku

“apa kau akan kembali?” tanyamu pelan dan tajam

tak kalah akal aku menjawabmu saat itu

“iya”

tanpa berfikir impact yang akan terjadi setelah ternyata iyaku terubah menjadi tidak, entah apa

difikiranku saat ini, tentangmu , rasa bersalahku dan tentang kata “kita” yang dulu kau dan aku samakan dalam berbagai kesempatan.

aku terlalu jauh sekarang, terlalu sibuk pada metode dan model hidupku, terlalu sibuk pada hobi dan programku sendiri, aku berusaha melupakanmu dengan beraktifitas lebih sibuk dari sebelumnya, melakukan banyak hal, dan berusaha untuk membagi tentang mu pada kesibukan dan rutinitasku karena kekecewaan akan hal yang konyol kurasa…

aku menyesal.

“dimana kamu?, disusul beratus email yang isinya tentang besarnya cintamu dan permintaan maafmu padaku

” emailmu setahun lalu padaku, entah apa yang harus kujawab

aku ingin berkata banyak hal

“jangan bicara tentang cinta dulu, aku ingin suatu realita tajam dan terkembang” aku ingin eksis pada masa kelam dan renggut matahari dari tidurmu, unggah aku seperti penyair megunggah sajaknya, lelah aku sekarang” balas ku singkat..

aku berbicara pada diri sendiri didepan kaca 0,5 meter dikamarku, memastikan semua ini kesalahan atau kebenaran yang sudah terungkap

minggu depan aku selesai mengurus transkrip nilai, ijazah, dan siap untuk kembali ke indonesia, akan singgah sebentar dijakarta untuk memasukkan beberapa proposal pekerjaanku, sambil packing barang2 tetap saja aku galau tentangmu

*tididit, telfon ku berbunyi pagi ini

“Guten Morgen, morgen gehe ich nach Indonesien mit dem ersten Flug,”

alles erledigt war, alles, was ich zur Vorbereitung nach Indonesien zurück”
semua sudah siap dan besok saya akan kembali ke indonesia, kira-kira seperti itulah arti singkat pecakapan ku ,
pagi ini aku bangun lebih cepat, beradu cepat dengan alaram yang kustel pukul 4 pagi, ingin aku menikmati dini hari di negri ini, sambil minum kopi di cafe bawah ketika orang masih terlelap tidurnya, masih saja aku meyakinkan bahwa semua tentangmu hanya khayalan dan efek semu fikiran-fikiran hidupku
*belasan jam kemudian
aku kini berdiri di terminal kedatangan luar negri di negriku sendiri, menunggu transit kekotaku, sambil menstel ipodku aku check in untuk penerbangan berikutnya
sampai juga akhirnya dirumah, rumah yang biasa tenang tanpa banyak keributan, kakak dan abangku sudah sibuk dengan kegiatan mereka masing, bapak dan ibu sedang ada diluar kota, hanya aku dan pembantu yang sebenarnya pun tak kenal aku.. aku disambut dingin dirumahku setelah 5 tahun tidak pulang gumamku,seperti biasa, perasaanku saja ini
ingin sekali beristirahat setelah terkena jet-lag hari ini, tapi mata tak terkantuk, sambil mengambil kunci mobil dan mengeluarkan mobil dari garasi aku berputar-putar tak jelas di kotaku, sengaja singgah di taman , sambil memarkir mobil aku turun untuk hanya sekedar melihat anak-anak kecil bermain bersama orang tuanya, melihat orang lari sore sambil tertawa-tawa riang..
sudah lama sekali tak menginjakkan kaki dikota ini, masih pada langit yang sama, cuma cakrawala dan umur buminya saja yang mulai berbeda,
dalam ketidak percayaanku padamu aku masih mengimplisitkan dirimu pada point-point penting hidupku, memandangi mu pada proyektor yang jelas tertanam dikepalaku.

memutar mobil ini untuk sekedar melewati rumahmu, dan melirik beranda depan tempat aku biasa duduk dengan mu menghabiskan sore..

“aku sudah gila” fikirku, semua tidak seperti logika yang kupelajari selama 9 tahun sebagai engineer, tapi terkadang benar cinta lebih besar dari logika teman!!

berjalan pelan di tikungan rumahmu, aku melihat pintu tempat aku biasa mengetuk dan taman tempat kita biasa berdiri, ternyata………

kau masih ada………….

nyata.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s