rumah siput(bagian 1)

Siapa yang bisa menebak hati, kau, aku atau mereka?..

siapa yang bisa menebak realita yang dalam dan tenggelam..

Atau aku ingin bertanya padamu, siapa yang tau masa- masa surut dibumi?

Tentang cintaku yang tumbuh namun harus aku menahannya, tentang rasaku yang ada namun khusus aku memendamnya,untuk mu, untuk membiarkan mu sedikit bermain dengan ruang hidupmu..sebelum nantinya sekali lagi aku pertanyakan cintaku ini padamu.

aku akan memberikan perasaan yang sama pada tingkat intimidasi otakku tentang mu

seminggu setelah akhirnya kita bicara empat mata, pembicaraan ter-serius yang pernah kita jalani setelah pacaran satu bulan.

“aku ngak bisa diginiin terus-terusan” katamu pelan

Aku Cuma diam memandangimu yang merasa sangat kesusahan menghadapi aku yang berselisih tingkat kesefahaman atas suatu korelasi hubungan…aku masih ingat sebulan lalu di Dkios, aku mengucapkan “aku sayang kamu” setelah seminggu berturut-turut kita menghabisakan waktu berjam-jam untuk saling bicara dari hand phone, dari jam 9 malam sampai jam 3 pagi dan dihentikan karena aku yang tertidur sendiri. Mencoba untuk mengakui apa sebenarnya yang bisa membuat kita berbicara tentang banyak hal berjam-jam, politik, kekasih, makanan, kuliah, sampe akhirnya malam sebelumnya kamu bertanya padaku

“mau digimanain hubungan ini?”

“aku Cuma diam, seperti membatu tanpa bisa menjawab apa-apa dari perkataanmu yang padat dan jelas menunggu mempertanyakan apalah arti cinta, apalah arti perjuangan, atau minimal apalah arti kata”nyambung” dalam banyak hal yang sebenarnya menurutmu harus dikaji lebih dalam” diakhiri jam 11 siang lewat 30 menit kita memutuskan untuk mencoba menyatukan kau, aku menjadi “kita”

“aku pengen kita pisah” ujaarmu judes

“kalau itu yang terbaik”

“kamu memang pengennya itu kan”

“aku… yasudahlah mana yang saja”

Matamu tajam seolah memperkarakan aku yang Cuma bisa diam melihatmu, apakah sebenarnya kau tahu bahwa hidupku ada tertulis nama kamu, atau kamu tahu bagaimana senangnya aku ketika bisa berdekatan denganmu, auraku dan auramu menimbulkan efek yang besar dalam konstituisi cinta kita, tapi memang tak cukup hanya sebuah kenyamanan, kau butuh lebih dari itu , kau butuh perhatian, kasih sayang yang aku sendiri tak tahu memulainya dari mana. Aku hanya seorang pria kaku tak romantis yang mencoba memperjuangkan hatinya, memperjuangkan kamu yang mulai bosan dengan tingkat ketidak pedulian mu.

Tahukah ketika kamu sakit aku sengaja mengantarkan makanan dan menungguimu di bawah sampai memastikan lampu kamarmu mati dan lalu aku pulang dengan tenang,

(bersambung ke bagian II)

dedicated

untuk teman


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s