rumah Siput (3)

ada yang cerita tentang aku, kau, dan kita yang sedang  berdiri dititian kali seberang kota

bicara singkat pada rentetan meteor puisi yang tak terungkap

karam aku pada sisimu, lenyap dan hilang pada filosofi yang mulai memudar

tapi tintaku tak hilang walau dicerca cairan alkohol dan raksa

padamu,

karena bagiku kau lebih dari serum dan antibiotik apapun bagiku..

 

setelah tatapan beradu pada ruang 4 meteran kita aku menelfonmu malam ini, karena aku tahu kau sedang sedih, paling tidak biarlah aku menerka itu semua, bila salah implikasi terberatnya kau hanya akan marah dan memperburuk keadaan..

memberanikan diri, mengulang menulis nomormu sampai 13 kali sampai akhirnya menekan tanda panggil 085678897890…

“malam.. riza..?”

ya.., ini siapa?

“ini aku..”

belum sempat aku memperkenalkan diri sepertinya satelitmu telah menunjukkan mahkluk sejauh 3 km dari kosanmu menelfonmu, memperhadapkan aku pada kisah cerita 3x 4 kita dahulu, yah air memang mengalir ketika digabung dengan air, aku mengalir ketika bicara tentangmu, padamu..

malam ini menelfonmu sampai 3 jaman, senang, membuatmu tertawa lagi seperti biasa.sepertinya ada rutinitas  baru dimulai lagi aku menyeletuk dalam hati

hari-hari terakhir kita bercerita tentang banyak hal, menungguimu diloby, mengantarmu pulang, atau sekedar kekosan mu hanya karena kau meminta tolong menemanimu makan malam,

“ngak sedih lagi kan” entah sudah berapa kali ucapan itu aku tanyakan padamu

“ngak”

“kamu semangat ya”

sambil memegang tanganku kau mengucapkan terimakasih padaku,

haha, tapi aku tak ingin menerka-nerka hatimu teman, biarlah saja proses ini berjalan, komplit tanpa perlu melewatkan kombinasi unik.

kita berjalan lagi seperti biasa, terkadang candaan melewatkan jam waktu yang semakin menipis padamu dan aku, tentang kau yang dulu menghujamku pada tatapan rasa marah dan mempertanyakan semua itu, tapi semua hilang, tentang mu yang menarik tanganku kasar, tatapan yang mempersalahkanku, itu berganti padamu yang membuatku selalu membatin

“tak salah aku menunggumu”

inti dari percakapan kita diatas singkat

kita kembali dekat.

 

aku ingin membuat sesuatu yang khusus padamu malam ini, jam 7 malam aku menjemputmu didepan kosanmu,

“kemana kita”

sambil tersenyum aku berkata

“jalan-jalan” berlagak bintang filem aku membukakan pintu untukku gadisku, istimewa untukmu

kita melaju tanpa arah hari ini, untuk sekedar mengingatkan bahwa ada abu2 yang pernah terbit diantara kita 2 tahunan dulu, bahwa ada keterkaitan paradoks antara jiwa-jiwa kita yang akhirnya bertemu lagi, bukan dalam ruang jarak 3×4 m lagi tapi jarak antara hatiku dan hatimu yang sejauh kombinasi iya dan tidak ketika aku ungkapkan rasa sayangku ini.

aku biru,dihantam kelabu, tapi memang aku masih berdiri pada angan2 harapan tentangmu, aku memberanikan berbicara seperti menghadapi tembok 3 meter didepanku, hadapkan aku pada aritmatika rumit, pada program sulit, pada desain yang tak membuatku tidur 4 harian tapi jangan hadapkan lagi aku denganmu dan berdiri didepanmu, aku pasti runtuh seperti beton diuji triaxial pada kombinasi 100 N, Failure-gagal uji.

“kapan ya aku punya pacar lagi”

ucapmu pelan

aku seperti punah pada rantai makanan terakhir alur ini

menerka, itu harapan, keinginan, atau cuma candaan

:kuharap bukan yang terakhir: aku membathin……….

sambil melirikmu yang tersenyum aneh aku seperti bicara

“aku mau…”

haha, ngarep!

 

bersambung ke 4


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s