Fiksi aku pada rentetan stutgard mu

kemanakah kau pada lingkaran kebiasaan yang kita bangun

apa pada lembah-lembah jejaring sosial maya, atau pada rasa yang tertanam perlahan menjadi adiktif..

jangan pernah ingatkan aku pada rentetan implusif hidupku

aku tidak pernah ingin menciptakan jarak diantara kita, ruang-ruang yang tak bisa kita gali..entah kapan lagi…

untuk mu yang distutgard: tunggu aku 6 bulanan di dalam hidupku, ruang itu akan kuisi..pasti dan takkan mengulangi erorr yang sama pada metode braess paradox

tidak ada yang berbeda pada saat pulang kuliah hari ini, dikos beristirahat dan menyisakan waktu yang tidak cukup panjang pada rentetanku

ada yang namanya paradox pendekatan pada jarak yang cukup jauh, ketika dulu mengenalmu aku tertahan pada kontekstual hubungan pacaran dan begitu juga kau. hanya bisa menjadikanmu teman berbincang masalah arsitektural pada proyek-proyek kecilku, dan sambil menraktirmu makan, laptop, kopi, dan sebungkus rokok yang selalu tak bisa kunyalan apabila kita sedang berbincang

” aku benci rokok.jangan pernah merokok didepanku yaa” itu kata-kata yang kau ucapkan ketika kita pertama dipertemukan pada sebuah proyek awal

“aji.. widya” awalnya saja kau sudah menohokku dengan matamu, ketertarikan insting manusia standar.. tapi tetap kubangun tembok diantara kita..harus..

6 bulanan setelah menyelesaikan kuliah di sipil aku ingin pindah kota, aku tak tau kau dimana sekarang bekerja, atau melanjutkan s2 mu, aku cukup tidak mengerti.

6 bulanan setelah menyelesaikan kuliah aku putus dengan pacarku, dan kudengar dari temanmu kau juga putus dengan pacarmu,

sambil iseng-iseng mencarimu di jejaring sosialku, dan ternyata kutemukan, mengaddmu sebagai friend..and then..

zeeepp.. dalam waktu 2 menitan kita menjadi friend

mencoba menyapamu dengan cara standar teman lama

“hai”

“hai”

“sedang dimana ini”

“dijakarta, kamu”

“di bandung”

bla and bla and bla

kau menjadi prioritas rutinku sekarang, selalu bicara denganmu, chat, telfon, sms, webcam, videocam, dan semua fasilitas komunikasi yang ada..

sepertinya kau mengisi ruang-ruang yang tertinggal, ketertarikan ku padamu muncul lagi, melakoni apa yang kuingin lakoni beberapa tahun yang lalu, semua memang ada tapal batasnya memang dan sekarang aku melampaui tapal batas fikiran untuk mengisi hatimu lagi…

beberapa kali aku tak kuliah, aku selalu kejakarta untuk bertemu denganmu. berangkat dengan kereta pagi kekotamu seperti sarapanku setiap awal bulan, atau kamu yang singgah di kosanku kalau kamu ada urusan kebandung,

tak sadar kita telah berada prioritas yang sama, prioritas mencintai dan dicintai yang sama padamu, denganmu ,dan untukmu

untuk sekedar menyarkanmu kalau aku takkan meninggalkanmu, sekalipun disetiap saat aku mencuri pandanganmu..

dalam dan tajam kita mencoba mengganti apa yang ada menjadi sama dan abu-abu menjadi putih, pesona eral kota lama menjadi venezia dan lembah-lembah jerman pada cita-citamu

“aku mencintaimu” ujarku tanpa melihatmu sambil memegang tanganmu , cukup keras…

kau hanya memandangiku, berusaha meyakinkan aku tak main-main, aku tak salah dan aku adalah pilihanmu, aku tak butuh jawabanmu sekarang, dengan senyummu dan matamu sudah cukup meyakinkanku pada kolaps hidupku…

selang beberapa kita menjalani hari seperti biasa, berbulan dan hampir bertahun.. tetap kita pada posisi yang tidak mengambang..

telfon aku sekarang, katamu mendadak..

aku mau ke german, melanjutkan sekolah..

“iya” aku berusaha menjawabmu sangat singkat, karena aku tak mau ikut berkompromi pada rutinitas permainan hati yang membuat pedih mendengar kau diterima di stutgard untuk perencanaan wilayah dan kota..

dari 10 menitan kita bicara aku hanya diam, seolah tak merelakan mimpi-mimpimu sedari dulu..

“kamu mau kita gimana?”tanyamu

aku tahu kau disana menahan tangis yang begitu pedih, akan kehilangan lagi setelah untuk sesaat kita bersama-sama membagi waktu dan fikiran logis..

aku diam, tak ingin aku membohongi hatiku mengatakan aku sayang padamu, tak ingin aku menyakiti hatimu yang akan berpisah jauh darimu…

“aku menyayangi kamu” ucapku

dari jakarta terdengar kata-kata mu:

“aku sayang kamu juga” nada suara yang lembut dan diaminkan dengan suara tangismu yang kamu tahan..

maafkan aku.. ujarku dalam hati

beberapa minggu ini aku diam, maafkan aku yang benar-benar tak ingin membuat kesalahan pada jalan hidupku dan mu lagi, rentetan ini seperti duri dalam daging yang perlahan tapi pasti menyakitkan, tinggalkan aku pada konotasi barumu, pada perlindungamu atas privacy dan hatimu, aku ingin kamu berfikir, aku tahu kamu marah pada tingkah laku dan pola anomali ku, tapi biarkan jarak seminggu membuatmu terfikir dan tidak salah fikir..

hari ini pagi sekali kau mengirim email padaku

“hubungi aku secepatnya”

daari tadi aku menunggui handphone mu kau angkat…

*teeddd

berharap banyak bunyinya dari no mu, tapi

“halo, kamu dimana nak? lagi ngapai ? ngak kuliah?” aku diserobot pertanyaan beruntun dari ibu.. sekitar setengah jaman dengan panduan hidup yang baik dari ibu, baik-baik ya nak, jaga kesehatan, jangan sering-sering lembur..blablabla

“iya bu, iya..” rangkaian jawaban pembelaan diri kepada seorang ibu yang sangat kuatir..

tiba-tiba terbaca sesuatu di layar setelah mati telfon dari ibu, 1 message received

“telfon aku sekarang!” smsmu singkat

aku menelfonmu, dan ternyata nomormu sudah tidak aktif lagi, hanya berselang dari 5 menit kau mengirim sms terakhir padaku..

apa aku hanya diberi kesempatan 5 menit…tegunku

membuka facebook dari laptop dari jaringan dikosanku..

aku membaca statusmu..

“at changi airport, dan dia tetap tak menelfon ku”

aku ingin langsung mengkomen itu, tapi apa lah arti facebook pada lingkungan dunia nyata kita..lebih dari itu…

aku merasa bersalah dan bertanya yang salah ini aku, waktu, atau keadaan yang membuat aku terpisah jauh dengan mu di stutgard.. aku meragu

sambil merebahkan diri ditempat tidur..

aku melihat kumpulan asistensi thesisku yang tinggal 2 bulan lagi untuk seminar pertama..

“sepertinya bulan juli aku bisa menyusulmu” tegunku,  dan kali ini aku benar-benar tersenyum sendiri

aku ternyata mencintaimu…sangat….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s