kamu, aku, dan mungkin kita.

saat masa matahari belum benar-benar tenggelam aku masih akan tetap berdiri

sekedar percaya akan ada keajaiban di detik terakhir

di pantulan sinar terakhir antara pembiasannya dengan uap air yang hampir tidak mungkin

ketika menoleh, aku percaya bahwa harapan itu ada

akan melihat kombinasi sinar matahari tenggelam, uap air hujan dan pantulan pelangi..

hal yang ku tunggu setahun terakhir

“i will”

kata terakhir yang kuucapkan ketika aku melihat punggungmu dari belakang’..

setahun belakang cukup sudah aku mengagumimu dari sisi melankolis hidupku, belajar seperti pencuri yang diam-diam memuja rumah tuan yang ingin dicurinya, mengagumimu dari belakang deretan punggung mu yang membuatku selalu merasa lebih kuat ketika percaya bahwa rasa akan terbalas

di saat melihatmu mulai berjalan dikejauhan, aku berjanji pada diri sendiri untuk memperjuangkan apa yang kusebut cinta

berjanji bahwa beberapa tahun kedepan kau akan kuliat berada di sampingku bukan didepanku seperti biasanya, aku percaya, hanya cukup percaya bahwa aku akan tetap memujamu wanita, dalam lingkup aku harus berjauhan.. karena memang itulah proses untuk mengenal hatimu, tapi proses bagiku penyiksaan, tahukah kau aku meneliti semua tentangmu mendetail, dari profilemu didunia maya, foto-fotomu yang kusimpan rapi di folder khusus komputerku, di folder khusus handponeku dan difolder khusus macbook ku..

tersiksanya aku berhadapan dengan ketakuakan yang aku sendiri tidak tau untuk apa,

apakah aku takut melihatmu yang begitu ramah kepada semua orang, apakah aku takut melihatmu tersenyum saat kita berpapasan, apakah aku harus takut melihatmu yang selalu dipuji oleh banyak guru karena kemampuan matematismu…

aku membisu, aku tak harus berhadapan pada ketakutan padamu fikirku perlahan

saat yang sama aku mengambil dslrku menatap kekaca ku yang cukup besar, melihat dan memantiknya perlahan, aku cuma melihat fokusnya…aku.

coba untuk menerka hatimu wanita pujaan, mencoba megkali-kalikan sembari beberapa kali mengakarkan semua tentangmu

tapi tetap hasil hitunganku absrud, tidak terdefenisikan, alias eror.

aku bingung, lebih bingung dari ujian fisika mendadak yang berhasil kuselesaikan 20 menit lebih cepat darimu, lebih bingung ketika harus tiba-tiba mewakili sekolah di IPHO, tapi tak lebih bingung ketika kau berpapasan denganku dilorong dan mengajakku bicara,

taukan kau aku ingin berkomat-kamit lebih lancar dari anggota dewan bila dekatmu..tapi aku mematung, tegak berdiri sambi lmenahan nafas

*menjelang saat-saat terakhir kelulusan aku pasti tak akan bertemu-mu lagi, aku akan disibukkan proyek masa depan yang ku bangun dari dulu, tapi sadarkah kamu diantara banyak proyek yang ku hantarkan dalam mimpi dan doaku ada kamu yang berdiri teguh disisi-sisi selatan tempat aku menaruh hal-hal yang paling penting itu, tapi tetap saja semua tak berpihak padaku, padamu dan pada cintaku yang menggebu untuk memperjuangkanmu.

dua bulan genap, setelah aku melihat mu naik ke mobilmu dan tepat berdiri memberi jarak dibelakangmu, aku hanya mengandalkan kelemahan sistematika otak yang terlalu bodoh untuk dibandingkan dengan para ahli riset kelas kakap, atau aku hanya bermimpi pada ruangan kecil yang kubentuk dan kuberi nama-mu, kuharap aku tak salah dengan penyiksaan ini.

*tersadar kali-kali ku yang salah dari dulu ialah bentukan semu tentangmu, aku ingin kembali pada masa dulu, ketika aku membiarkan mu berdiri didepanku, tanpa sapaan, tanpa kenalan dan tanpa gurauan…

sudahlah, aku seperti tunas baru tumbuh dijalanan dan terinjak kaki pejalan kaki, rapuh untuk bangkit dan terlalu menjejak ke tanah untuk tetap di bawah..

kalau kau ada pada masa-masa ku sebelum berakhir dibumi, biarlah masa itu tetap menjadi pergolakan damai antara aku dan rohku, antara kenyataan dan cita-cita antara kamu dan aku pada jarak 50 meteran kita..

jangan ganggu aku lagi dengan senyummu yang tanpa makna, jangan ganggu aku lagi dengan rentetan biduan suaramu yang mengiris, cukup dua tahun aku tersiksa dengan kondisi yang tercipta untukmu,

saat aku berjalan menuju pesawat, aku tersadar bahwa kita berada di pesawat yang sama dengan tujuan singapura.

“hai” sapamu manis

” kamu ke singapura juga?”

” iya, kamu kuliah di NTU juga ya? jurusan apa kamu?”

“arsitektur, kamu?”

“sama”

aku tersenyum seperti melupakan prakata pada candi-candi tua yang mendahului nasib,seperti arca yang membeku mulai mencair dan mulai menampakkan bentuk pada galian ke seratus hari.

saya tersenyum dalam hati

” kamu akan aku perjuangkan…pasti”

aku tersenyum dengan seribu satu dan plus dua puluh makna lain kepadamu, sambil tertawa kecil aku menyodorkan tangan ku padamu, berusaha menyalammu..

“dito”

sambil bingung dengan tingkahku, dia menjabatku lagi

“ratih, tapi bukannya gw juga kenal lu ya”

“kita baru kali ini kenalan secara formal” aku jawab dengan sangat percaya diri

ternyata es yang membeku bisa lumer dengan sekejap pada suhu 40 derajat celcius, pada kondisi tertentu.

saya mengambil novel dalam tas dan membaca sambil cekikikan kecil, kamu terdiam kebingungan.

*untuk seseorang yang membuat saya tersenyum berkali-kali di pesawat singapura airlines, semoga kamu mengerti pergolakan hati ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s