Bumiku ungu kelabu…

Tarik aku dalam harmoni sub liminal fikiran yang terbatas

Tarik aku pada batas kepercayaan yang aku sendiri tak tau benar atau salah, pada kebenaran yang terbeban pada dinamika subliminal.

Pada kehidupan realitas yang ternyata lebih dari pada tulisan-tulisan novel yang pernah kutulis, untukmu….

Mencapai batas klimaks kemampuan pribadi untuk tetap terbang tinggi dan walau jatuh pun tidak terlalu dalam

Akan kecintaan pada alam, dan burung yang bernyanyi namun mulai tak senada

Akan kerinduan pada air yang mengalir namun tak lagi jernih

Akan aku yang mencoba menyadari bahwa masih berada di dunia tempat kita berada, namun semakin tua, tak ada lagi kicau senada ritme tawa burung di udara, tak ada lagi korelativitas fikiran yang menjaga kehijauan hutan yang mulai mencoklat, kering dan menunggu menjadi gurun,

Gersang…

Tiup aku dengan kegemulaianmu yang semakin tak pantas, raba aku dengan rasamu yang menjejak di panasnya bumi, peluk aku di perairan kutub yang semakin mencair. Dan jangan biarkan aku berlari sendiri, kalaupun iya biarkan aku berlari tanpa noda terkepal di kepala, darah nanar dan luka

Kadang terlalu berat untuk tidak disadari ketika semua menjadi realita kompleks…

Maafkan aku bumiku….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s