Padamu lea 1

2, 5 tahun sudah aku menghilang dari dunia yang sebenarnya, nyata-nyata tanpa ada konteks hubungan ke rekan-rekan semasa kuliah dulu.  siapapun itu.

setelah berhasil menyelesaikan kuliah dibandung, kontan aku langsung menarik diri, mencoba menghilang dari kehidupan sebenarnya, mengganti nomor hp, megganti penggunaan email, mengganti account ym sampai mendeactivatedkan facebook dan twitterku, serentak aku ingin hilang dari muka bumi, dimakan rayap atau busuk di antara magma tak apalah, yang penting menghilang..

sebulan setelah wisuda, langsung saya mengapply pekerjaan di oil and gas di qatar, perusahaan asing, bermodalkan bahasa inggris pas-passan dan gelar akademik yang cukup mapan, saya pun diterima,setahu saya yang tahu ketika saya berangkat ke qatar hanya bapak, ibu dan keluarga dekat. dengan pesan wanti-wanti ketika saya memberi tahu,’ jangan beritahu kepada orang lain’. kontan semua rencana gila saya menjadi kenyataan dengan kombinasi waktu yang sangat cepat.

saya ingin mengumpulkan rupiah, saya ingin mengenal diri lebih dalam, saya ingin mencari tujuan hidup dan saya butuh petualangan yang baru, cuma ini alasan saya ketika saya berangkat meninggalkan cengkareng dengan penerbangan siang itu 2,5 tahun lalu.. menghilang tanpa batas. melawan kesendirian, berharap kesendirian itu akan membawa saya menjawab pertanyaan sekelumit yang mungkin saya sendiri tak mampu menjawabnya.

hari ini, hari ke 2 saya di indonesia setelah 2,5 tahun seperti anak hilang, seperti adik yang hilang, seperti teman yang hilang.

cukup…cukup saya yang tahu perjalanan hidup 2,5 tahun itu, kesimpulan sederhananya, saya telah mendapatkan jawaban dari tujuan hidup saya, dan ternyata semua itu butuh 2,5 tahun atau 30 bulan, atau 262800 jam. menghilang dari peredaran, dari blog, dari kuota, dari pertemuan dari forum-forum dan dari teman-teman. ada banyak berita menggujing di facebook ketika kembali membuka facebook sore ini

:sudah menikah ya?:

: katanya kerja di papua ya:

:gimana perusahaan baru di jakarta?, katanya uda mulai sukses:

:anak kamu uda berapa, kamu nikah kenapa tidak undang2:

secara garis besar seluruh post wall dari rekan2 adalah demikian, beberapa bertanya, : lo, dimana si? hp ngak aktif, ym ngak ada, email ngak pernah dibalas, lo masih hidup ngak??!: beberapa tanda seru yang mengartikan mereka masih perhatian dengan  saya temannya yang menghabiskan waktu banyak dengan mereka dan tiba-tiba berubah introvet dan mulai menghilang perlahan seperti ufuk diterjang gelap, tanpa disisakan nanar sedikitpun, hasilnya? sepi.

saya ingin pulang, saya rindu rumah, dan kontrak diperusahaan sudah habis tinggal ada pada pilihan diperpanjang atau tidak. 3 alasan diatas menjadi alasan kuat ingin pulang kerumah, ke indonesia, duduk diberanda depan rumah melihat orang lalu-lalang, berbagi kopi dan cerita dengan bapak yang pensiunan, membantu ibu membersihkan bunga-bunganya, atau menggendong keponakan yang pasti sudah besar. saya rindu bau, bau rumah

rumah,

tempat aku bediri di awal, belajar berjalan berlari dan terjatuh

tempat aku akan selalu singgah, tempat rinduku akan selalu tertuang

tempat aku akan pulang, tempat aku menjadi pribadi yang alami

tempat aku rindu anggotanya dan bercerita tentang kisah pagi ini

tidak banyak yang berubah, tidak juga dengan bentuk rumah, hanya catnya saja yang baru, dengan wangi cat yang belum mau luntur dari hari kemarin, tetap tenang, tanpa banyak pergolakan besar di rumah, tempat aku akan bercerita tentang kisah, cerita, usaha dan ditutup dengan menonton berita malam.

“kamu ngak kemana-mana?”

ibu bertanya lembut padaku,

“tidak, saya ingin istirahat. dan mungkin minggu depan akan kejakarta untuk wawancara baru”

sambil mendekat, ibu memegang bajuku perlahan, “kamu jangan kerja di luar negeri lagi ya nak, ibu mohon.”

aku tau bagaimana dia kuatir tentang aku yang tidak ada kabar banyak, yang jarang menelfon dalam 2,5 tahun terakhir, yang aku sulit dihubungi ketika sedang outsourcing ke pedalaman atau tengah laut, atau yang aku dengan penampilan brewok ketika sampai dirumah, dan hampir tak dikenali. tak ada yang salah dengan naluri keibuan ini kurasa.

“iya bu” aku jawab pelan sambil masuk ke kamar.

mengakses internet, membaca beberapa papper yang belum sempat terbaca, aku kemudian berangkat pergi mencari beberapa makanan kecil di swalayan.

“bu, saya pinjem mobil , saya mau cari makanan kecil dulu”

“di kulkas masih banyak nak” jawab ibu pelan dari kamar

“iya bu, biar saya tambah” elak ku, untuk mempercepat pembicaraan.

menyetir sendiri dan akhirnya sampai juga di swalayan yang letaknya cukup jauh dari rumah ini.

mengambil tempat belanjaan, saya mulai berburu : kopi, biskuit, roti, coklat, beberapa heineken 0% dan beberapa kacang untuk bapak.

setelah berhasil memboyong, saya berjalan gontai kekasir, sampai dikasir, saya melihat seorang wanita yang wajah nya tak asing bagi saya,

gleb!!!!!

itu dia lea… pacar eh bukan mantan pacar saya.

saya lupa menambahkan salah satu alasan saya berangkat ke qatar karena saya baru berantem sangat hebat dengannya beberapa hari sebelumnya, dia ingin kami yang sudah bersama bertahun-tahun pisah, tanpa sebab pasti. saya tahu sebabnya sebenarnya tapi yasudahlah bukan untuk dibahas kali ini,yang pasti saya saya hancur, remuk redam atau apalah itu namanya.

dia menggendong anak yang sepertinya berumur 2 tahun, cantik sekali.. rambutnya keriting, putih dan memakai baju warna kuning, kesukaan lena. ya entah mengapa mahkluk Tuhan yang cantik satu ini suka sekali dengan warna kuning, pertanyaan retorik yang saya tak akan temukan jawaban nya sepertinya.

sialnya pandangan saya dan dia beradu pada komensalisme yang berhubungan, saya memandang anak itu, dan dia yang menggendong kontan memandang saya.

mukanya pucat, seperti melihat hantu yang dimakan bumi, kemudian bangkit tiba-tiba lalu hadir tanpa pesan, berdiri didepannya dengan kondisi yang berbeda, dengan jenggot dan kumis yang tebal, dengan rambut yang diikat kebelakang dengan fisik yang sangat berubah dari 2 tahun terakhir. lupakan 2 tahun terakhir, tapi saya bisa liat dia seperti patung lilin yang tak bergerak, melihat saya.

saya tersenyum berusaha menenangkan diri juga dengan jantung yang tak ingin berkompomi. dagdigdug…

“aa…kammuu…”

“hi, lea” jawabku singkat. sambil pindah ke kasir sebelah untuk membayar.

sudahlah, lupakan fikirku, dia sudah menjadi ibu yang bahagia dari anak yang cantik, sudah menjadi istri dari suami yang baik, sudahlah-sudahlah.. tapi tetap kontan, sejauh apa aku ingin berkata sudahlah sekuat itu juga aku ingin menyapanya, berbicara panjang lebar, cerita ini itu dengan dia cinta pertamaku…..

selesai membayar, aku menuju kemobil, dia masih terpana, shock tepatnya. dia ingin bicara tapi tak bisa, yang ada kami hanya pandang-pandangan di pintu depan supermarket.

“berapa lama disini” tanya lea, dan pertanyaan yang memecah gunung es yang kami bangun 30 menit terakhir

“2 minggu mungkin, saya pulang dulu ya, ” saya pamit, di otak saya hanya satu saya tak boleh mengganggu hidupmu lagi, saya tak boleh mengganggu keluargamu.

tapi taukah kau kekasih dalam kesendirian disana, kau masih yang pertama bagiku

dalam malam-malam doaku kau tetap objek didalamnya

tapi taukan kau kekasih, rasa ku yang tertinggal disinilah yang membautku menggebu untuk datang kembali

mempertanyakan hatimu, menggebu pilu dan berkecamuk dengan rindu melihatmu

tidak untuk mempertarukan apa-apa, tidak untuk mereka, tidak untuk siapa, tapi untuk  cintaku yang pernah kau anggap sudah selesai

yang bagiku, tidak akan pernah…selesai

to be continued..:D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s