dream-s

Beberapa hari ini saya benar-benar menikmati liburan. sepi, hening, tak ada sms ajakan dari rekan atau teman untuk kumpul, tidak ada ajakan keluar dari siapa juga, tidak ngegaming, tidak ngefutsal. hanya menikmati kumpulan film, sepedaan sampe malam dan kehujanan.

saya rasa saya benar2 membentuk dunia sendiri.

kembali terfikir ketika bangun tengah malam. saya melihat diri sendiri.

BELUM BISA APA APA

mau jadi apa saya ketika 24 tahun tapi belum punya apa-apa.

saya punya rencana yang tertata rapi di buku agenda, tahun-tahun targeting, beberapanya sudah terlaksana, dan masih sangat banyak yang belum terlaksana

ada beberapa rencana yang saya tulis di white board putih besar di samping rak buku , berisi rencana dan plan.

beberapa berisi target seminar, sidang, kerja, target menikah, doktoral degree, bahkan sampai target keuangan yang harus saya capai di debet tabungan.

tidak salah dan tak boleh menyalahkan juga sepertinya, masih dalam status mahasiswa yang mulai bekerja sebagai freelance (lagi)  setelah sakit membuat saya harus resign dari kantor. membantu beberapa penelitian, dan membantu beberapa tesis bapak-bapak pu di unpar. penghasilan? masih kecil, ya lumayan untuk hidup dengan syarat “lajang”. tidak boleh kurang atau lebih.

saya seorang pemimpi dan berusaha untuk bermimpi besar, terkadang mulai ragu dengan mimpi-mimpi itu, terkadang ragu dengan kemampuan sendiri, untuk melewati batasan batasan yang dibentuk oleh fikiran alam bawah sadar. atau mungkin saya takut menambahkan langkah yang lebih besar di setiap goresan huruf berisi satuan dari doa, harapan dan tujuan hidup.

tadi malam ketika bangun saya mengaduk 4 sendok kopi dan 2 sendok gula, sederhana, pahit yang tertutup dengan manis. berfikir

|s a y a t i d a k b o l e h b e g i n i  t e r u s|

seorang pemimpi besar adalah orang besar, dan orang besar harus memiliki sifat orang besar minimal mendekati sifat orang besar

saya rasa saya harus merubah diri, merubah fikiran, pola fikir untuk lebih lagi, kalo ini batasan saya maka saya harus melebihi batasan itu. kalau cita-cita saya sebagai deputi menteri itu terlalu tinggi maka seharusnya saya yang meninggikan diri saya untuk itu, bukan malah menurunkan cita-cita menjadi pegawai dengan rumah dan mobil terparkir satu atau dua buah digarasi. hidup hanya untuk diri sendiri dan keluarga.

saya ingin berpengaruh untuk banyak orang, ingin membantu banyak orang, mungkin sistem tidak bisa dirubah, tapi orang yang didalam sistem itu bisa dirubah, mungkin kepentingan itu tetap ada, tapi kepentingan mereka yang kelaparan , dikampung-kampung, kurang makan dan kurang bergizi itu lebih penting, kepentingan mereka yang tertutupi kebodohan, ketertutupan mental yang semakin buruk, itu jauh lebih penting. tapi semua cita-cita yang besar tak akan terwujud tanpa usaha yang keras, NO PAIN NO GAIN kalo katanya mah.

sepertinya disiplin, berdoa, usaha dan selalu memikirkan rencana selanjutnya untuk langkah selanjutnya adalah hal yang terbaik yang harus dilanjutkan untuk menyelamatkan rencana.

saya ingin jauh lebih baik, bukan hanya  nantinya sekedar menjadi seorang master transportasi yang akan berusaha untuk memperbaiki hidup. saya tidak ingin menjadi si putih yang berstrip hitam seperti kebanyakan, tapi ingin menjadi si hitam yang berstrip putih (madagascar II)

saya ingin lebih dari itu, saya ingin memecah kebuntuan antara si kaya dan si miskin, si miskin yang harus merubah kaumnya dengan pendidikan, si miskin yang harus rela balajar siang malam untuk sekedar mendapat ijazah yang haram hukumnya bila dibeli,si miskin yang akan menjadi kaum baru terpelajar dan kodrat baru cendekiawan.

tujuan hidup? sepertinya baru di umur 24 tahun saya mempunyai tujuan hidup. mungkin arah belum jelas, tapi yang pasti saya sedang membangun drainase-drainase aliran air a yang menuju ke sungai-laut-teluk-bahkan samudera!

semoga.!

Tuhan tidak pernah tutup mata bagi mereka yang berusaha, dan Dia juga tidak pernah lupa bagi mereka yang berkeinginan.

its all just about dreams…

Dreams are illustrations… from the book your soul is writing about you.
Marsha Norman

Dreams are the touchstones of our character.
Henry David Thoreau

Dreams are today’s answers to tomorrow’s questions.
Edgar Cayce


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s