kita dan pecahan kaca.

malam ini, saya menyeduh kopi pahit arabica, dan membakar sepuntung rokok menulis di laptop

mengingat akan kita

saya sedang berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan hubungan yang sudah hancur akibat emosi dan amarah. perilaku kita yang tidak menyakiti secara fisik tapi penyerangan secara verbal yang pelan-pelan menghancurkan satu dengan yang lain.

tadi pagi kamu bilang, “paku yang sudah ditanam ke tembok ketika dicabut akan meninggalkan bekas bagaimana pun itu cara mencabutnya”. saya tau kita bicara tentang tancapan perkataan yang menyakitkan dari masing-masing.

Entahlah yang pasti aku tidak ingin lagi bertemu denganmu, tapi kakiku sepertinya mematri tajam untuk memaksa bertemu dan bicara denganmu, aku berusaha membuang semua fikiran negatif tentangmu. aku mulai lelah bicara cinta, kasih sayang yang selalu berujung kegagalan. entahlah..pasti kau juga demikian..

disaraf otakkku terngiang kata-katamu “kamu ga boleh egois, udah kamu lupain aku aja, udah anggap aja aku cuma wanita yang sekedar lewat” ini-itu..

aku sudah berusaha, tapi tetap saja kamu memberi ruang yang terlalu lebar, tembok yang terlalu tinggi untuk sehingga aku tidak bisa memanjatnya..

sepertinya aku mulai menyerah, bukan, lebih kepada membiarkannya. ini mungkin memang salahku sepenuhnya, atau terserah mau dibagi perberapa bagian untuk salahmu.

aku sedang mengumpulkan pecahan kaca dari figura yang sudah dibawa pergi, dan entah dimana

aku sedang berjalan di jalanan dari teknik fisika ke pintu gerbang itb, dan taukah kamu isi otakku malam itu?” kegagalan, kegagalan, kegagalan.. entahlah aku bisa memperbaiki itu semua atau tidak atau itu hanya kisah yang memang harus berakhir..

pagi ini, siang ini aku merasa masih memiliki kamu, aku masih merasa bisa memperjuangkan semua tentangmu..

pada apapun yang pernah berlalu dalam hidup kita, ini mungkin tidak bisa dipungkiri lagi, dan aku ingin menguapkannya.. membiarkannya dibawa angin keselatan atau keutara,terserah.. ya paling tidak tidak sedang berada disini bersamaku.

kesepian, kekecewaan yang kita bentuk di dalam satu tabung yang dikatakan hubungan mulai mengambang, seperti kekurangan nitrogen untuk terbang, atau malah kelebihan beban berisi fikiran dan efek sana-sini.

kamu bilang ini sudah berakhir, siang tadi… aku sudah memprediksi kan itu semua, aku? yang pasti aku sudah berusaha. sekarang saatnya aku menjauh, berjalan sendiri dengan fikiran-fikiran dan prinsip-prinsipku.

menghapusmu dari kolom memoriku, dari apapun di kehidupanku..

ini cara terbaik untuk kita berjalan masing-masing…maaf bukan kita..tapi ini jalan pilihanku..

(kumpulan novel)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s