Sabtu=kopi+wifi+laptop+sendiri

Starbuck coffe, 6 November jam 16.00

Oke saya disini sendiri.. sedang berperang dengan rasa sepi yang selalu saya anggap kopi pahit yang saya minum, menambahkannya dengan gula tawa-tawa sendiri atau paling tidak dengan menulis dan mendenger beberapa judul lagu.

Mengakui saya baru putus cinta, lagi… dengan segala makna dan niatan yang ada didalamnya. Mulai kelimpungan seperti bangsa bar-bar yang kehilangan pemimpinnya, tidak punya arah dan akal, atau paling tidak sedang kelimpungan seperti ikan lele yang diberi garam hidup-hidup, hasilnya? Mati lemas.

Saya mencoba membunuh kesepian dan kesendirian dengan berjalan kaki dari kosan menuju Starbuck, cukup jauh menghabiskan jarak berkilo-kilo, memilih kopi caffe americano ukuran sedang, dan duduk disini berjam-jam.

Sebelumnya saya mau cerita dahulu kebiasaan-kebiasaan saya kalau sedang stress patah hati atau sendirian. Yang pertama kalau sedang stress saya senang sekali dengan bersepeda, bersepeda keliling-keliling tanpa arah, membakar lemak dan menghabiskan tenaga saya di pedal sangat indah saya rasa, saya senang sekali menghabiskan waktu berjam-jam mau siang atau malam , bahkan saya pernah melakukan rutinitas ini tengah malam hanya untuk membuang fikiran-fikiran buruk dan rasa suntuk saya, yang kedua sepanjang hari saya akan mendengarkan music dari headset dan mp3, tak perduli itu dikampus, sedang kuliah atau sedang berdiskusi dan berjalan bersama teman, bagi saya itu adalah bagian penting yang mengisi kekosongan  itu sendiri, sometimes i just dont really care with another. Hal yang ketiga ialah akan menghabiskan berjam-jam waktu saya untuk sekedar menulis tentang apa saja, dari mulai karangan ilmiah, cerita prosa, kritik sosial atau sekedar menulis tentang fikiran dan pribadi yang mungkin dalam konteks yang tidak penting saya rasa.

Hari ini entah hari keberapa saya mencoba menormalkan segala perasaan saya, mencoba mengakumulasi sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang lebih baik dan dalam proses pengakutan fikiran dan diri sendiri, harapanya? semoga nantinya akan berhasil dengan baik, tapi entahlah kalau tidak juga ya mungkin pilihan terakhirnya ialah waktu yang menjawab berbagai gejolak dan perasaan.

Disini saya sedang menulis tentang banyak hal, berusaha memaknai perjuangan, kebersamaan kisah cinta yang mungkin terlalu banyak rintangan, berbagai penolakan, tawa, tangis dan kata berhenti, dan “tidak bisa” berkali-kali, mulai frustasi dengan fikiran-fikiran sendiri, bahkan sempat berfikir terlalu buruk kah saya dengan fikiran dan prinsip-prinsip ini, mulailah dengan ketidak percayaan diri yang entah dari mana datangnya, bangun dan merelaksasi fikiran yang sudah sempit menjadi lebih sempit lagi, membentuk fikiran salah menjadi lebih salah lagi.

Tapi fikiran dan prinsip tidak bisa dikalahkan oleh permintaan dan perbedaan, mungkin kita memang benar-benar sudah berbeda, aku bosan dengan kata “tidak” mu, aku bosan dengan penolakan-penolakanmu, sepertinya aku sedang berekondisi pada fikiran sendiri berusaha untuk lepas dari rutinitas yang kubangun, apalah ini semua. Mungkin juga saya bukan orang yang mengerti cinta, memahaminya seperti yang kamu minta, dan mungkin ini memang salah saya,  tapi sudahlah seiring berhentinya lagu Bleeding Love-Boyce Aveneue ini saya rasa semua tentang kamu dan saya sudah benar-benar berakhir.

Selamat tinggal, you deserve someone better

“i dont care what they say i’m in love with you….”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s