suatu pagi..

sambil menyeka keringat kami duduk dibantaran kali pantai cita dan cinta, busuk beradu dengan limbah.

pembersih, pembasuh dan prosa ringan tempat mengadu hari

sambil menyeka liur yang kelaparan kami bersihkan atap, oh bukan ini bukan atap

kami bersihkan triplek kayu peneduh dari hujan sang puisi pengantar kepercayaan bahwa cinta itu ada.

lalu bau tanah yang ditetes hujan waktu pagi  yang menjadi wewangi badan.

nanar, anak kami kelaparan, tapi tak apalah nak bapak saja sudah dua hari tak makan nasi.

cuma makan mcdonal sisa pungutan di sampah yang setengahnya juga sudah kau makan.

suatu hari saat saya berjalan dengan anak saya melewati kota dan trotoar, anak saya bertanya

pak siapa itu sambil telunjuknya menunjuk kearah baliho besar sang presiden gagah perkasa.

saya jawab:  bapak ndak tau nak,kita cari makan saja.. tau atau tidak tau itu siapa kita tetap gelandangan kelaparan…

*aku pengen jadi dia pak ee* tiba2 anak saya berujar

sambil mengurut dada saya tidak bicara apa-apa lagi*hening*

bisakah?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s