sebelum pergi

fiksi

ada tulisan dalam dan terbuang, namun sebenarnya menjadi sesuatu yang besar.

ada rentetan garis yang dibaca salah dan dianggap satu pengertian benar atau tidak.

entahlah, cukup lah semua omong kosong itu.

selalu saja ada yang berbeda, tidak sama atau mungkin tidak pernah sama, saya sedikit banyaknya sudah tidak perduli lagi dengan korelasimu, sudahlah sudah cukup sebulan, dua bulan menunggumu tapi tak juga itu akan menghasilkan apa-apa, membijakkan diri pun saya rasa tidak, bukan perkara bisa atau tidak namun perkara mau atau tidak.

saya tidak mau dibodoh-bodohi perasaan lagi

kata saya terakhir saat menunggumu berjam-jam dibawah kosanmu dan tidak juga kamu mau keluar, kamu membakar saya dengan ucapan-ucapanmu, entahlah mungkin kalau dikuotakan saya tak ingin bertahan juga, tidak ada rasa ingin bahkan sedikitpun, tidak juga akan tulisan yang selalu kamu anggap omong kosong, tidak juga aktor yang selalu kamu anggap salah.

rasa bosan itu datang ketika sesuatu terjadi berkali-kali dan mengulanginya seperti bagian yang tak terjamah, atau mungkin tak tersentuh alam pikiran.

dari mulai pernyataan

“saya ingin bahagia”

“saya ingin sendiri”

“saya ingin menyudahinya”.

sudahlah memang semua sudah, pertikaian saya dengan diri sendiri sudah berakhir, tidak juga lebih buruk dari babat tanah jawa.

siapa tidak pernah merasakan patah hati tanya saya pada teman-teman.

semua mengangguk pertanda setuju, itu bukan masalah siapa yang salah dan benar, tidak jua aku menduakan cintamu, aku cuma butuh lebih pengertian dan perhatian darimu, sederhana. dan tak jua kamu mengurainya dengan jelas, yang ada bentakan dan ucapan yang membelah. tapi sudahlah, waktu toh akan terus berjalan.

“ada waktu? bisa makan siang?”

ternyata semua hanya masalah hati, bila saya mencoba melawannya dan tidak larut didalamnya semua akan menjadi jauh lebih mudah, tidak juga akan dendam yang kamu simpang perlahan dan menjadi ombak yang sangat menakutkan.

“boleh, jemput aku ya”

ini kali pertama saya mengajak seorang wanita lagi keluar bersama saya setelah hampir 2 bulan, duduk tenang dikamar waktu malam, berusaha menerima penolakan-penolakan mu yang terkadang tidak masuk akal, tapi tidak baik juga bila aku dikebiri oleh perfaktaan yang terlalu cepat berlalu.

ini kali pertama saya berjalan dengan wanita lagi, dan berbagi hari dengannya, mencoba menyunggingkan tawa sebesar tawanya, memegang tangannya ketika menyebrang dan duduk di cafe tempat kita biasa bersama.

peran memang digantikan peran, wayang digantikan wayang, kisah diganti cerita.

dan tersadar ketika melihat hp.

5 misscall, 1 new message

i read it.

“saya kangen” dari kamu,

mampus!!

tulisan saya hanya omong kosong, perasaan saya bilang.

“saya kangen kamu juga”..upsss


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s