SEBAGIAN BAB 5-GENTA.

Disudut ruangan ini, perempuan itu duduk dengan tubuh condong ke meja didepannya. pandangan matanya lurus kedepan, tangan kiri memainkan poninya, tangan kanan memegang rokok. sambil berusaha menutupi wajahnya dengan poninya. mulutnya bergerak, seperti  berkomat-kamit, sesekali badannya semakin condong kedepan, tapi sepertinya dia tidak komat-kamit. dia sedang sendirian. menikmatinya dengan rokok kemudian mengawinkan nya dengan  secangkir kopi dan laptop mac didepannya.

kemudian kembali larut pada ketikannya sepertinya, lalu mengurak arik di kertas dengan pensil, entah desain atau sekedar tulisan yang menjadi konsep.

saya berada di depannya, tepat berhadapan. saya tau dia tau saya memperhatikannya, terkadang saya tertangkap mata sedang melihatnya. berburu pada rasa malu saya berusaha tidak salah tingkah lalu tetap menatapnya dan memberi pandangan kosong, seolah sedang berfikir. kembali dia memainkan poninya dan memainkan bibir merahnya. perempuan itu langsing, berkulit putih, rambutnya panjang terikat dan bentuk rambut yang sama seperti yuna di final-fantasi.

saya masih mengerjakan pekerjaan saya, sesekali mengisap rokok dengan dalam menaruhnya diasbak menyeruput kopi yang masih panas, lalu kembali menatapnya, satu detik-dua detik-tiga detik- kembali ke pekerjaan saya, menulis laporan untuk dipresentasikan besok pagi. handphone saya berbunyi ada sms masuk isinya.

“kirim draft malam ini” sms singkat dari si bos, yang berarti sebelum jam 10 malam saya harus menyelesaikan draftnya dan mengirimkannya ke email si bos, lalu pagi-pagi saya akan kekantor lalu presentasi didepan klien yang akan dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan dari mulai pertanyaan bodoh sampai pertanyaan yang sama sekali tidak saling berhubungan dengan bahan presentasi saya. itu artinya saya harus ngebut, lebih cepat. tapi…

mata saya tidak berkompromi dengan kewajiban saya, saya melihat perempuan didepan saya, lalu tak sengaja berkebalikan memergokinya sedang melihat saya, dan melakukan hal yang sama, “pura-pura dalam pandangan kosong” saya tersenyum kecil lalu mengangkat gelas kopi dan menyeruput kopi sambil mengarahkan pertanda menawarkan kopi saya padanya, sambil tersenyum. dia tersenyum lalu mengangkat kopinya juga pertanda “toss” selamat bekerja. lalu kembali saya ke laporan saya, duduk dan sesekali berkorelasi dengan program dan excel terkadang serta merta membuka web dan mencari bahan referensi baru untuk menambah kelas tulisan saya. sejam- saya habiskan menghadap laptop dan menyeruput kopi yang mulai dingin, lalu kembali melihat perempuan itu.

perempuan itu duduk dengan tubuh menyandar dikursi, menutup mac nya lalu ,melap air mata, oh tidak, dia sedang menangis, melap air mata dengan lengan bajunya. lalu perlahan diam, saya liat matanya smebab dan bibir merahnya, perasaannya yang pasti sedang tertekan. kemudian saya klik ‘save’ di laporan saya. mengambil sapu tangan dari tas, dan memberi kepadanya.

“ini, jangan pakai baju sayang bajunya” lalu saya diam serasa ikut berempati-atau simpati atau apalah yang merasakan arti tangisan itu.

“makasi” dia mengambil sapu tangan saya, saya kembali ke meja saya menyelesaikan laporan saya, dan tersenyum melihatnya, sambil mengagguk mengirim pesan

“apapun itu, sabar ya..”

presentasi saya lancar, cuma ada beberapa bahan yang harus saya kerjakan lagi untuk dikirim besok pagi, karena sinyal modem dikosan saya tidak baik. lalu memarkir mobil di cafe tempat saya biasa kerja, memesan asbak, segelas kopi americano hitam pekat ukuran medium dan duduk dispot saya.

perempuan itu ada lagi di sana, bajunya warna merah, kali ini dia tidak merokok, dia hanya masih memainkan poninya. perempuan itu cantik, entah apa lagi kata-kata yang menjelesakan kecantikannya dibantng kata cantik itu sendiri. dengan tangannya yang putih ia mengangkat kopi menawarkan nya kepada saya, saya tersenyum-dia tersenyum.

15 menit kemudian.

saya sudah duduk didepannya sambil sama-sama membuka laptop, berbagi asbak rokok dan kopi dengan ukuran yang sama. berbicara banyak hal, dari mulai pekerjaan, urusan, pemerintahan sampai ngolor ngidul ke pssi yang sudah corrupt bahkan sampai menggeleng-geleng ketika dia pernah sekolah ke jerman lalu kembali ke indonesia karena terlalu kangen dengan sambel dan makanan buatan ibunya.

“hati-hati dengan sense” anda tidak perlu waktu yang lama untuk dekat dengan seseorang ketika sudah menemukan sense yang kuat, perlahan tapi pasti saya dan dia beradu padu, bicara. panjang lebar, sesekali tertawa dan sesekali saya menghidupkan rokoknya dengan lighter milik saya. lalu perlahan memandangi merahnya bibirnya.

“hei…”

“maaff” saya tersenyum kembali ke fakta bahwa saya sempat spacing beberapa menit karena melihatnya..

sejam-dua jam-tiga jam, akhirnya kita berpisah, saya pulang. mengantarkannya kemobilnya dan saya kembali ke mobil saya

tapi satu yang sepertinya saya lupa, nama…

saya lupa bertanya namanya.

perempuan itu ada di jarak kilometeran dari saya, tapi suara perempuan itu ada di telfon saya, mulai saya dan dia mengobrol siang-malam-sampai tengah malam dan alhasil kami sama-sama terlambat bekerja, karena telat bangun,tapi tidak saya tidak lupa namanya.

“satu panggilan tak terjawab”

jenar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s