GENTA

potongan bab 6 -novel “GENTA”

waktu bukan untuk dibuang percuma.

lalu langit berkompromi dengan hujan dan menerpanya perlahan menetes di kota jakarta, padat sumpek dan apalagi kata-kata yang bisa menerjemahkannya.

tapi bukannya perduli atau tidak, tidak ada yang memberikan kepastian diatara ketidak pastian di kota ini, akan kemacetan, debu atau bahkan makian dari pengendara bus, mobil dan kereta api di stasiun kota. selalu ada yang berbeda untuk membentuk satu nukilan cerita baru yang kita harapkan benar, entah akan menjadi benar atau tidak.

“sebastian.” ketok pemilik kamar 3×3 m dari luar kamar, aku yang belum tidur panjang, baru saja pula aku tutup mata ini lalu larut dan permainan asa dan mimpi yang kuharap menjadi kenyataan, akan cita-citaku dan wanita, ah sudahlah… itu bukan bagian yang untuk diurus.

“kamu perpanjang lagi sewa kamar ini atau tidak? tanya si bapak yang empunya kos-kosan.

“tidak pak, saya akan pergi nanti sore”

“oh, ya mas, nanti kuncinya dititip saja ya di bawah”

“nje pak, nuhun ya pak”

“sama-sama mas sebastian” lalu si bapak pergi, meninggalkan saya dan mimpi saya yang tanggung, dan tentu belek mata yang belum dibersihkan.

entah kemana lagi aku akan pergi, lalu melangkah berdiri duduk dan tidur ditempat yang berbeda selama satu bulan. lalu kutanya pada hatiku kenapa kita tidak diam dan tinggal untuk sementara waktu, kenapa terus berlari namun tidak juga bisa sembunyi, sekali lagi kutanya hatiku dan dia tetap …diam

jakarta-bandung-jogja-surabaya-bali-semarang dan berakhir di tepi kota bandung.

kemana lagi aku akan pergi, bermodal uang sisa hasil proyekan yang masih bersisa, lalu kurapikan saja tempat tidurku, mengepak baju-bajuku. mengambil cas-an hp dan mulai berjalan seperti biasa.

mungkin kalau bisa mengeluh sepatu eiger kulit ini sudah mulai akan mengeluh, mulai berpaling dari warna coklat menjadi hitam akibat debu dan lumpur yang tak juga aku berniat untuk membersihkannya. sudah hentikan saja semua sesal bisik hati kepada diri, toh ini semua proses yang harus dijalani dan harus dilewati dengan baik atau mungkin dengan sangat baik, tidak pula perlu sedu sedan yang membuat kau semakin lemah, atau masih juga saya ingat dengan obrolan di pinggir jalan ketika makan nasi goreng disemarang seorang bapak iseng bicara dan seperti menggurui-berkata.

“jangan terlalu mengikuti perasaan mas, bisa bahaya” sambil tersenyum kepada saya.

mungkin dia tau, saya pemuda yang tidak terurus dengan bag pack yang besar, rambut tidak rapi, pakaian kumal, tato di tangan kanan dan anting di telinga kiri sedang melahap nasi gorengnya pertanda kelaparan yang sangat dalam. bergelut dengan diri sendiri dan orang lain lalu kemudian menghilang tanpa jejak.

lebak bulus, saya duduk lalu membeli rokok dan segelas kopi di pinggiran, meratapi nasib di terik jakarta yang semakin menjadi-jadi. beberapa gelandangan berlari hilir mudik, orang-orang berdatangan dan berpergian dengan waktu yang sangat singkat. sejam-dua jam kunikmati isapan rokokku perlahan, sebatang-dua batang sampai..

“mau kemana mas?” tanya ibu penjual kopi pada saya.

“eh ibu (sambil tersenyum), ga tau bu, nunggu bis aja yang bisa bawa kemana saya pergi”

“punten mas, tapi kalau mau pergi masa tidak tau kemana” si ibu bertanya dan terseyum.

asem, saya jadi ingat ibu, apa kabar ibu-bapak dirumah, apa baik-baik saja. bagaimana keadaan nya, saya kangen waktu ibu menelfon saya dan cuma bilang “kamu jangan telat makan ya nak, kasian perutnya, nanti sakit, susah kl sakit siapa yang ngerawat nak”, lalu beberapa kali ibu bertanya, kamu kapan pulang kerumah? pekerjaanmu bagaimana? kamu sehat? nanti kalau kamu perlu uang atau apa-apa jangan sungkan minta sama ibu ya..

saya selalu menjawab.

“iya bu-iya bu” entahlah -saya seperti berkomunikasi dengan bahasa koran dengan ibu sendiri antara “ya-tidak-belum-besok” tidak lebih, tidak juga saya cerita tentang perjalanan dan kepahitan yang belum tentu juga pahit.

“iya bu, saya mau kesurabaya saja” ucap saya perlahan.

“oohh, ditambah mas kopinya.”

“nuhun bu, boleh, satu gelas lagi ya bu” gelas ke-2 dan rokok entah puntung keberapa, akhirnya saya memutuskan untuk kesurabaya, berjalan lagi, beruntung masih ada sisa tabungan di atm saya. tapi sampai kapan, mengapa saya harus kejakarta lagi. apa yang harus dikejar disana. mungkin dari sana saya bisa langsung ke sulawesi pikir saya, menikmati kesendirian di manado atau di losari makasar saya bisa merokok dan minum kopi sambil menunggu ilham datang dan menjemput saya untuk pergi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s