hujan itu..

lalu hujan turun perlahan-lahan di lembah-lembah siliwangi, menepi-nepi di balik jendela ,mengintip-intip lalu bersama-sama bersatu pada dinding kaca

menipis aku pada lamunan, menepis aku pada lingkaran hidup

menipis aku pada lentera yang hampir mati, lalu menggelinding-gelinding pada atmosfer fikiran

hujan, kenapa kita berdua-dua bercerita tentang kesepian?

hujan, mengapa kita berdua-dua bercinta pada rasa yang menghilang

hujan…

atau dia juga merasakah hujan yang sama….

seperti ranting kering yang kau basahi tanpa permisi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s