matahari pagi menyengat

pagi ini bangun kesiangan lagi, ini hari ke 5 bangun kesiangan, tidur jam 1-an lalu terbangun dengan sinar terik matahari pagi yang seolah bilang “hai pemalas, bangun!”

rindu bangun dengan cara berbeda, saat dulu ada panggilan telfon, dan sms atau sekedar ym untuk membangunkan dari tidur tak nyenyak itu.

entahlah, pagi ini baru benar-benar sadar semuanya sudah berjalan masing-masing, kadang kegiatan-kegiatan dan aktifitas yang menghapus memory, kadang aku rindu setengah mampus, kadang ketika melihatmu di jalan yang sama aku tak ingin membuka helmuntuk sekedar menyapamu.

10-11-12-1-2 butuh deretan bulan itu agar setidaknya aku lebih tidak perduli, butuh rentetan bulan itu agar aku sadar kalau  memang sudah sendiri. butuh pagi terik yang membangunkan dari tidur, dan butuh satu pernyataan “seandainya 22 desember 2009 tidak pernah ada” untuk aku benar-benar  berhenti dan menelan pil pahit.

sangat pahit.

ah sudah pahitnya, ngaduk kopi dulu plus ngerjain progres tesis.

next: yang berikutnya tidak akan ada penyesalan dan kata pahit lagi, kalau tawar saya tinggal kasi gula yang namanya kasih sayang.. i promise my self!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s