cinta luka tapi itu bukan derita.

kesepian itu racun yang mematikan.

melintas di ubun-ubun tepat di tengah malam

tempat manusia merangkai kata lalu menuju alam bawah sadarnya.

tapi aku tetap memergoki batangan rokokku, menyeruput kopi yang belum kedinginan dan sekarang masih..

memikirkanmu.

Bandung 26 Februari, sama seperti tahun lalu. diruangan kamar 3×3 ini masih saja berposisi yang sama, berkondisi juga tak sama baiknya dengan 26 Februari 2010.

spasi waktu yang terlalu cepat membuat diri berfikir berulang-ulang untuk segala hal. kembali beku dan dirasuk bentuk kesepian angin dingin bandung yang menyengat terlalu dalam.

potongan-potongan rokok, secangkir kopi panas, dan beberapa draft tesis yang masih belum benar berserakan di meja berebut dengan beberapa buku paul coelho yang sudah terbeli tapi sampul saja belum terbuka, memutar lagu boyce hanya untuk mengusir kesepian yang  semakin menyerang.

kadang hidup misteri, dan memang saja, tidak ada satupun yang bisa mempredisi jalan-jalannya, kadang suatu saat akan ada banyak orang yang menyayangimu kadang kau akan dihantam setan kesepian sampai setengah mampus. kadang kau akan berseri-seri menghadap langit dan menyusur jalan pulang karena cinta, kadang kau akan seperti mayat hidup yang menjalani sesuatu dengan derita.

keduanya kadang berperang pada kondisi masing-masing sekuat matahari diusir oleh malam saat senja. sekuat aku yang mulai menepi di tepi pantai saat ombak yang semakin besar pertanda malam akan tiba.

mencintai itu kadang tanpa batas, tanpa perlu batasan setahun, dua tahun, tiga tahun, tapi apa kau bisa melawan yang namanya garis tangan yang sudah ada bahkan sebelum kau terlahir dari rahim sang ibu?

tidak ada yang bisa menerka, cinta kapan datangnya, bila bisa terpesan itu mungkin hanya rasa suka sementara.

tanya padaku berapa kali aku jatuh dengan susunan kata yang namanya cinta…

ketika kehilanganmu ialah tamparan bolak-balik yang menyadarkanku, sempat juga berujar egois untuk melawan rasa, bahwa aku takkan menyerah. lalu tersadar:

kadang kita berjalan, bergandengan tangan tapi menuju arah yang berbeda

kadang rasa cintaku dan cintamu memiliki makna yang tak sama

kadang perhatianku seperti dentuman pertanyaan retorik olehmu

kadang susunan katamu, menyakitkan di ulu hatiku.

lalu siapa yang salah? tidak akan ada yang salah…mungkin cuma waktu yang salah.

cinta tidak pernah salah, tidak akan pernah salah….yang salah interprestasi kita yang berbeda.

sekarang faham keihlasan dan kerelaan telah bergejolak walau perlahan dan kadang sangat lambat, tidak juga untuk dikutuk oleh waktu-waktu yang berjalan lebih cepat.

kamu? sudah cukup kusimpan saja di hatiku, lalu sambil menuju satu perhentian yang lain. wanita yang  mau membagi waktunya lagi denganku…membagi tawa, senyum bahagia, atau kekuatiran karena aku kecapean begadang, dia yang menghubungi hanya untuk mengingatkan makan, mengantarkan vitamin, berbincang kecil, dan tersenyum melihat draft novel dan kumpulan yang sudah berbentuk buku. aku yang kuatir karena dia terserang flu, atau kedinginan sampai membuka jaketku yang tebal untuknya, menungguinya tidur karena kecapean, atau sekedar mendengar ceritanya yang panjang lebar, atau mungkin sambil mengantarnya pulang aku mengusap kepalanya diteras kamarnya dan berkata..selamat malam..

welcome to my life…

semoga kita bergandengan, berpegangan dan tetap sejalan.

dan sampai suatu saat dialtar, ketika aku berdiri memakai stelan jas lengkap dan memegang ujung tanganmu dengan gaun yang indah.. berjanji.. akan setia sampai maut yang memisahkan kita, mencintaimu dengan seluruh hati , fikiran dan tenaga ku.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s