perempuan itu (Genta Bab 5)

perempuan itu mengisap rokoknya dalam-dalam. lalu menenggak segelas heineken sambil menahan rasa menggigit dari bir dingin itu.

kantong matanya hitam mungkin pertanda tidak tidur semalaman atau entah menahan sakit, kantuk aku tidak mengerti

perempuan itu rambutnya acak-acakan berbalut baju kotak-kotak yang juga tidak rapi, menengadah pada laptop nya, perempuan itu penulis.

ada 3 kegiatan perempuan itu, menulis-mengisap rokok-dan menenggak segelas besar bir dingin.

aku memandanginya, aku mencintai perempuan seperti ini, perempuan yang menjadi karakternya sendiri, perempuan yang tidak takut akan pandangan orang lain padanya, perempuan yang mencintai bahkan mengorbankan jiwanya sebelum tau akhirnya prianya lari dengan wanita yang melacur dari pintu kepintu, perempuan yang menahan rasa sakit tanpa merubah itu menjadi benci, perempuan yang setia pada otak warasnya.

perempuan yang akan marah ketika harus marah, dan akan segera mereda ketika pria disebelahnya sekarang meminta maaf sambil mengusap kepalanya, perempuan yang berjuang untuk sesuap nasi tanpa menjual harga diri, perempuan pertempur dengan kata, memberi makan perut dengan kalimat. perempuan yang disebelahnya duduk pria baru yang mencintainya, apapun dia, bagaimanapun dia, perempuan yang ketika ketiduran bisa berjam-jam di pundak dan bahu pria yang baru saja merebut hatinya tanpa mengambil harga dirinya, pria biasa saja yang memiliki kemampuan diatasnya, pria yang membagi rokok, hidup dan cinta yang dimilikinya untuk itu.

entahlah disebut beruntung atau tidak, tapi membagi waktu dengan wanita yang sepemikiran membuat waktu berjalan begitu cepat tanpa nelangsa yang begitu lama, ini cinta lalu apa? bukan faktor ini itu yang membuat kita menangis karena aturan yang dibuat oleh sipembawa aturan, cukup pria-wanita dan saling mencintai, bukan faktor profesi yang membangkang atau agama yang menjadi kungkungan.

perempuan itu membagi keluhan, perhatian, dan rasa yang dimilikinya, walau tertular pada emosi yang sempat teredam ketika bangun pagi dan teriak tanpa alasan. begitulah dia..apa adanya

perempuan itu ada disebelahku, bersandar di bahuku.

sambil aku menyelesaikan tulisanku, memeluk tanganku dan semakin lelap.

tidurlah, aku tau tadi malam kita terlalu sibuk bertengkar tentang cinta gelap gulita dan tentang agama yang tidak menyurutkan hasil apa-apa. sekarang cuma kamu-aku itu saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s