seharusnya itu

yang aku bingungkan sekarang adalah kamu, semua tentang pola fikirmu.

sabar, itu kataku terakhir padamu, tapi kau tetap tidak juga bersabar, efek berantai yang membuat semua jauh lebih buruk. sadarkah kamu kalau aku juga sabar disini, aku juga dulu sabar menghadapimu, entahlah, kerinduan yang terpendam lalu menyimpannya menjadi batu, dan membuangnya di tepian jalanan becek menuju kamar kosanku.

menghabiskanmu di lagu adithya sofyanku, menggenggam tangan pertanda kesalku belum juga kelar…

hidup memang bukan perkara adil tidak adil, perkara menang atau kalah, tapi taukah, kamu mematikan harapanku selama ini, membiarkannya larut dalam palung-palung paling dalam dan menghilang di bawa hujan kemarin sore.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s