pengembara salah.

dan pengembara itu menghitung hari dalam jalan-jalan yang berliku, memanjat ke tepian jurang, melontar kata-kata yang berisi prosa pengambil keputusan kebenaran diri sendiri.

penyalahan, pembunuhan karakter, lalu siapa yang tidak pernah salah?

kalau ada pointing 10 sempurna tidak satu keturunan adam dimuka bumi yang memenuhinya, apalagi saya manusia biasa ujarnya.

pengembara itu mendaki bukit lalu singgah ke peristirahatan di atas bukit, duduk berdiskusi dengan petani yang mukanya sudah keriput, menyeruput kopi hangat dari lampung tepat jam 7 pagi. belajar tentang kekeluargaan, belajar tentang memberi dan belajar tentang tidak memiliki.

kalau semua bisa terbeli oleh agama, uang dan prioritas kepentingan, mau jadi apa dunia ini fikirnya.

kalau semua pada satu kesamaan, untuk apa ada figur berbeda yang Khalik ciptakan tanyanya.

jangan cerita tentang filosofi padaku kata petani tua, kalau ada yang datang dan kelaparan akan kuberi makan dari padi yang kutuai seminggu kemarin, kalau ada yang haus akan kuberi kopi dari hasil rumahku, aku akan beristirahat dari membajak untuk memberi satu pembicaraan kecil. itu saja.

pengembara haus akan kemampuan lebih, menjadi sok pintar pada kemampuan yang tak terbatas, tanpa tau sebenarnya kopi itu bisa berisi racun yang membuat jantung berhenti berdetak, membuat rongga udara menyempit. tapi untung tidak, si petani miskin walau dihajar bicara yang kasar tetap saja si miskin yang apa adanya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s