senja yang memerah.

and in the morning when you go
wake me gently so ill know
that loving you was not a dream
and whisper softly what it means to be with me
then every moment we’re apart
will be a lifetime to my heart

perempuan itu meninggalkan jejak yang tak terjamah oleh radar apapun, entah juga mungkin radarku yang tak cukup kuat menggapai relung-relung perasaan dan hatinya, atau sebaliknya dia tetap membeku tanpa membuatku tau apa isi dan bentuk yang dirasakannya.

perempuan itu kalau marah, akan menonaktikan handphonenya, akan menangis sejadi-jadinya, mungkin besok ketika kami sudah mereda mungkin prianya akan melihat hand phonenya yang rusak, atau tangannya yang membiru, perempuan itu menyakiti dirinya untuk menyalurkan amarahnya, itu cara paling efektif mungkin, tanpa perlu diketahui oleh orang lain.

perempuan itu membela diri dari ku, saat aku kembali, begelora dan bertanya pada diri, sulit untuk menolakku mungkin, dan dengan itu dia akan melakukan apapun untuk mencegahku masuk lagi kedalam hidupnya, bahkan untuk berbicara sekalipun, wanita itu takut luluh dan merasakan sakit yang lama.

sore itu, aku berdiri di depannya, jalan 2 tahun tidak bertemu, tidak ada yang berbeda. fisik? aku tak perduli fisik.

dia tersnyum, sejuk menyuruhku masuk, membuatkan ku teh, dan mulai bicara panjang lebar.

perempuan itu kuat sekali menyembunyikan rasa sakit, luka yang pernah kubuat, perempuan itu bijak sana sekali saat aku pernah menggoresnya dan ketika bertemu seperti tidak pernah ada apa-apa diantara kami, seperti teman kecil yang bertemu lalu tertawa perlahan, membicarakan satu konteks pekerjaan, arah, pasangan dan tujuan menikahnya.

perempuan itu pernah sakit lalu muntah di seluruh baju kemejaku siang itu, perempuan itu minta diberi air hangat, perempuan itu kalau tidur akan meninggalkan bekas di bantal ku, perempuan itu minta dirawat kalau sakit, disuapkan kalau makan, perempuan itu pernah kuatir dan menangis ketika kepalaku terbentur karena jatuh lalu dengan setia menemaniku ct scan dirumah sakit, perempuan itu pernah menyerahkan seluruh kepercayaan cintanya,  perempuan itu sering memakai jaket ku yang kebesaran, minta ditunggui tidur, perempuan itu suka sekali mengerjakan pekerjaannya dikamarku,  perempuan itu tertidur sambil memelukku dari belakang diatas sepeda motor. perempuan itu sering marah-marah lalu tersenyum, minta maaf dan berusaha memperbaiki semuanya, perempuan itu tahan terhadap kekerasanku. perempuan itu mencintaiku…

mencintai seorang pria yang bukan baik-baik, seorang pria yang meninggalkannya untuk sesuatu yang dianggap pria itu adalah hal baik, pria itu meninggalkannya saat menangis, sakit, perih, pedih dan sampai keubun-ubun, pria itu pergi tanpa bekas seperti dimakan oleh waktu.

perempuan itu sendu, dikamarnya, kurang tidur, kurang makan, dan tidak bahagia, perempuan itu melihat foto-fotonya dengan pria itu, perempuan itu menangis lagi sambil tersedu sampai pagi dan terbangun. perempuan itu butuh kepastian bukan cinta yang sudah hilang pergi entah kemana.

perempuan itu pernah menanyai tentang pria itu, tapi pria itu terlanjur masuk dalam satu konteks kehidupan berbeda.

perempuan itu menemukan cintanya yang baru, yang membuatnya tertawa, mungkin bukan cinta pertama nya seperti pada pria itu, perempuan itu tidak merasa sakit yang mendalam, rindu yang sampai ke ubun-ubun dan tidak menangis sampai pagi.

pria itu tersenyum dari jauh, melihat wanita itu sudah jauh lebih baik…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s