Ananda

Bicara tentang kepergian, saat kau berjibaku dengan rasamu sendiri

Memilih memenangkan kewajaran dan kesepian dibanding hura-hura dan keriuhan

Menjadi perkara mampu atau tidak mampu

Tapi yang pasti saya menjadi bagian indah yang terkontaminasi doa-doa dan harapan sedari kecil


Malam dimana saya ketemu kamu terakhir kalinya  untuk mengkopi file yang kamu minta, entahlah.. tapi aku sudah meminta kamu untuk turun dari mobil dan menyeruput kopi sama-sama, barang segelas saja.dan seperti biasa juga kamu menolak setiap ajakan ini, tapi entahlah, ada yang aneh rasanya malam ini ketika saya turun dari mobil kamu, ada suasana yang berbeda dan rasa hambar yang tidak enak.

lalu malam berikutnya seperti biasa, aku dikamar duduk sambil menulis beberapa papper yang harus diselesaikan , beberapa tumpukan pekerjaan di meja dan laptop yang sudah memanas hidup tanpa berhenti selama 10 jam-an, menghabiskan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan di depan laptop, sedang dikejar deadline-deadline yang selalu tidak sewajar dengan kompensasi istirahat yang dibutuhkan, ini gelas kopi ketiga di sepuluh jam aku bekerja di depan laptop,tapi  entah lah dari sepuluh jam itu sejam terakhir aku memikirkan mu, aku juga tidak mengerti kenapa ada  kamu di fikiran-fikirankuku. Semakin aku mengesampingkanmu semakin besar rasa ingin tahuku tentangmu.

“selamat malam”

“ummm…”

“kenapa…”

Aku bingung tanpa ada nada suara balasan dari penelpon lalu aku lihat di telfon. Itu kamu, kamu yang sedang bicara di sisi satunya

“hei, nda kenapa kamu diam saja?’ tanyaku…

“gapapa, aku pengen ketemu kamu..”

“iya, kamu mau ketemu dimana?”

Sekarang mau? Aku sudah dijalan menuju kosan kamu..

Oh iya..ya, kabari kalau sudah di bawah, atau kamu mau singgah dulu kekamarku?”

Dimobil saja ya, aku parkir di bawah saja.

Aku tau ini pasti ada sesuatu sampai kau harus datang menemuiku tengah malam ini, entahlah tapi fikiran dan intuisiku merasakan ini tidak baik,  sambil nge-save beberapa pekerjaan di laptop aku mematikan tivi, tanpa sempat berganti pakaian, handphone ku berbunyi.

sms dari “ ananda” aku buka

“aku sudah dibawah..”

Langsung menemuimu di basement dengan celana pendek dan baju dalam putih biasa yang aku pakai selama 10 jam terakhir.

Aku membuka pintu mobil dari sisi kiri, lalu duduk di sebelahmu, kondisi parkiran basement yang gelap.

Aku tau kamu sedang menangis, berkorelasi dengan warna lampu basement yang redup, berkorelasi dengan ac mobil mu yang sangat dingin, dan yang pasti berkorelasi dengan kita yang membisu seperti dimakan waktu. Aku bingung memulaidari mana untuk memecah kebisuan kita, menilik proses yang menjadikannya nyata, akhirnya satu kalimat pendek memcah keheningan kita.

“kamu kenapa?”

Kamu diam, membisu, aku juga tidak ingin mengganggu kebisuanmu,

Tanpa alasan juga kamu mengajak kita bertemu, tanpa bicara banyak kamu juga mengajak kita berpisah, termakan pertanyaan besar, tapi aku tetaplah aku, takakan memprotes apapun tentang apapun yang kamu lakukan, aku tau dan aku cukup menghormati segala keputusan-keputusan mu.

Aku naik lagi kekamar dari basement tanpa menghasilkan apapun, tanpa menghasilan diskusi apapun, tapi aku tau matamu bicara tentang kita, tentang rasa, tentang cinta dan bagiku kesimpulan percakapan diam semua ini adalah

“sudahi saja semua,” aku tau itu fikiran mu, airmata mu yang berkali-kali jatuh, tapi malam ini aku tau air matamu jatuh karena aku, aku tau kai ini air matamu jatuh karena salahku. Aku tau kamu tidak mampu bicara karena kata-katamu akan menjadi airmata dan tangis yang sedu. Dan kamu pasti tau juga aku menjalin permusuhan dengan air mata berpuluh-puluh tahun, seingatku aku menangis ketika aku di bangku smp karena ibu sakit parah, setelah itu aku berjanji air mata hanya akan berguna ketika air mata mencuci mata, bukan untuk meluapkan sebuah perasaan entah gembira atau berbau kesedihan.

Aku menunggu untuk terus stay dikota ini agar bisa sekedar bertemu dengan mu, aku selalu menyempatkan mengeber motor putihku untuk menemuimu walau hanya satu-dua jam saja.

Aku cukup senang dengan semua ini , rekondisi dan kondisi yang entahlah benar atau salah, menjadi sebuah kebiasaan akut yang aku jalani setahun belakangan, aku tau, semua butuh usaha dan tanpa itu hasilnya hanyalah sia-sia

Aku rasa cukup untuk memimpikanmu, membuat fikiranku membeku dan terkurung, memelihara pagar yang cukpu tinggi untuk orang lain yang kubangun walau tidak sempurna, aku rasa cukup rasa dan dasar perasaan yang tak salin gbergantung antara kau dan aku, tidak mungkin bukan engkau tapi aku, sudah lah.

Akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran beasiswa ku ke detroit, aku rasa ini jalan tengah terbaik untuk memperbaiki fikiran dan perasaan, membangun kehidpan ku yang mulai berantakan setahun belakangan, aku rasa ini juga jalan tengah untuk membahagiakan ayah dan ibu sehinhha pada suatu rentetan saat dimana aku bisa memenuhi keinginan mereka untuk memberi cucu yang sangat mereka harapkan, ya. Aku ingin menikah, aku ingin berhenti dengan semua ketidak jelasan ini.

Seminggu, dua minggu belakangan ini aku sibuk bolak-balik ke kantor keimigrasian, untuk mengurus surat izin, pasport dan visa belajar di detroit, sambil resign dari pekerjaan dan membekukan beberapa bisnis kecil yang mulai ku bangun, begitu juga membekukan hatiku terhadapmu, aku menyibukkan diri dengan membaca, membka peta, mengumpulkan semua uang dan aset yang kumiliki untuk membantu keuangan ku nanti ketika sekolah lagi di detroit, aku tau tak ada yang salah, kau? Tidak juga. Kita tak salah, yang salah mungkin keadaan, waktu yang taktepat,jagnan salahkan hatimu, tidak juga hatiku, ini cinta dan setidaknya aku bersyuku pernah merasakan pespektif objektif dengan objek yang sempurna..

Tidak ada sms, telfon, ym, bbm atau email darimu, yang ada hanya kita berdua berfikir dan berjuang bersama-sama dengan satu paradoks yang berbeda.

3 jam sebelum berangkat, handphone ini berbunyi…

sms singkat

from ananda

message: aku hamil.

aku… disambar petir siang hari!


2 thoughts on “Ananda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s