semeru, jagai radit kami!

Masih mengerjakan desain yang mesti dikirim untuk besok pagi dan di sudut kamarku lainnya ada beberapa buku bersampul plastik yang masih harus selesai dibaca 3 hari ini.

Sibuk, sangat sibuk bahkan beberapa hari ini  aku hanya keluar kamar 2 atau 3 kali saja untuk membeli nasi di warung depan, sekaligus untuk makan siang dan malam untuk mengurangi waktu yang terbuang percuma. Menyulut rokok di samping laptopku dan menghidupkan kipas untuk mendinginkan laptop yang sudah semakin panas.

Lalu mendadak aku stuck, berhenti. Fikiran dan olah fikiran tidak lagi senada, entah mengapa. Berhenti sejenak lalu menutup laptop. Dan hp ku berbunyi.

telah berpulang rekan, sahabat kita radit sore ini di semeru.

Aku disambar petir siang hari, ketika mendengar kepergianmu sahabat. Aku memegang hp ini dengan tangan bergetar lalu kuhabiskan saja isapan rokok terakhir dan tidak berkata-kata lagi dan pucat pasi.

Satu lagi sms masuk

Dikubur siang besok, kita kumpul di jakarta selatan dirumah radit.

Angin apa yang membawa kabar kematian yang terlalu cepat untuk raga yang terlalu muda

untuk pecinta yang masih terlalu bersemangat

Bahkan tidak juga sempat aku diajari editan fotografi olehmu,belum sempat juga kita berbincang tentang cover novelmu yang kau titip di laptopku.

Aku terdiam, terhenyak, mati rasa.

Semeru memanggil namamu, lalu membawanya tenang di lembah-lembahnya

Menyanyikan ode-ode sedih kepergian anak manusia

Berjalan antara lembah nyata dan semu dan meninggalkan tubuh yang membiru

Kau disergap dinginnya yang tidak adil, lalu meninggalkan raga yang membeku tanpa pesan

Kematian muda yang pernah kita bicarakan lalu menjadi kenyataan.

Akan harapan yang telah berhenti, akan cita-citamu untuk duduk di tempat terindah di semeru

tidak juga penyakit yang menyergap tubuhmu dan membuatmu tidak berdaya yang membawamu menghadapNya

Yang ada hanya kesunyian yang melambai pelan ditangisan dan isakan para sahabat.

Selamat tinggal sahabat, teman, guru, dan saudara. Tidak juga kulupa gelak tawamu, senyum lebarmu atau kita yang bernyayi lagu dewa19 tengah malam dengan gitar usang di sudut kamarku. Tidak juga aku lupa raga boleh menghilang tapi tidak harapan dan semangat yang berlebih.

Sampai bertemu sahabat, mungkin aku akan menyusul suatu saat. untuk kita-raga dan filantropi yang terbuka.

eR

mengenang radit 3 tahun kepergian sahabat kami.

ada hati yang meninggalkan luka, nelangsa dan air mata

tapi siapa yang bisa menentang sang Hyang bila sudah berkata

siapa yang bisa melawan gagahnya semeru yang ingin ditemani jauh didalam kesepian…

semeru, jagai radit kami…

😥


2 thoughts on “semeru, jagai radit kami!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s