anakku.

anakku taukah kau jika ayah ingin menjadi penyair, pembaca puisi, penulis,  pecinta teatrikal yang bergerak menuju di teater-teater itali, lalu bergerak mencumbui sastra di yunani, bergulat dengan cerita-cerita indah di pinggir argentina, tersesat di pakistan lalu menyahdu di india..sambil menggontai cerita percerita, kisah perkisah dan reduksi per reduksi.

merasuk buku dan puisi lalu prosa dalam darah, dari 22 jamku, 2 jam lagi mungkin untuk makan dan mandi, karena tidurpun aku memikirkan pergulatan teater yang hidup serumpun dengan tulang dan darah.

ah cuma mimpi!

aku tetap terperangkap pada gelar ke-insinyuranku dan bergumul dengan ke-masteranku beberapa hari lagi.

terperangkap pada harapan keluarga dan dunia yang begini-begini saja.

entahlah, suatu saat nanti akan kuajarkan padamu anakku untuk menjadi panggilan dirinya saja, bila ingin menjadi penyair, atau malah pengamen berdasi di pinggir-pinggir jalan di pinggir warkeley garden, atau ingin menyanyi keroncong di brisbane, menjadi dokter, insinyur, arsitek bahkan bermain rugby apapun itu nak..

jadilah seperti yang engkau mau, berjuanglah untuk itu, lalu mematrilah pada panggilan dirimu. berserak-seraklah dengan kemerdekaanmu, lalu berpestalah dengan cita-citamu, menikahlah dengan harapan-harapanmu. karena ayah tak akan menggangu

lalu ayahmu akan masih disini, karena masih punya tanggung jawab untuk mereka yang membesarkanku..

setidaknya ayah masih berbakat bersandiwara demi mereka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s