larung #1

minggu, tengah malam..

jam saya bangun dan bekerja…

pekerja malam? apa, dimana, mengapa…

selain pelacur, penjual bubur atau indomie tengah malam, supir taxi, atau pedagang kaki lima yang membuka warung kopi tengah malam atau karyawan bar, club atau circle k yang buka sampai pagi?

bukan..

saya cuma penulis..penulis novel, pengemis script, kuli tuts keyboard dan pecinta blog..

11.00 pm

menyeduh kopi panasku, lalu mengambil beberapa roti dari lemari, mengolesnya dengan beberapa selai jam kacang, dan menghidupkan musik lalu mendengarkan lagu dari headphone edifierku.. ini sudah malam, gila saja bila menghidupkan speaker.

ini malam? pagi ? siang? ah aku sudah hilang arah, yang pasti kamar ini hanya berukuran 4×5 m, kamar mandi dalam, lalu ada dapur kecil yang tersusun berantakan. seberapa berantakan? seberantakan aku yang tidak punya masa depan!

lalu membuka blog, mencheck beberapa email dan menghidupkan ym, lalu mengaktifkan hp yang setengah hidup dan setengah mati.

“3 minggu lagi draft tulisan mu!” ada tulisan tersebut dalam 3 email berturut dari redaksi dan editor. aku sudah menerima 10 % dari perjanjian bahkan uangnya pun sudah entah dimana, habis dibelikan roti dan kopi dan makan siang. aku sudah seperti di eropa! hanya makan roti, tapi sepertinya roti adalah cara bertahan hidup paling efektfif untuk orang-orang miskin penulis seperti ku. beberapa tumpukan indomie, telur dan beberapa oat untuk sarapan, ah bukan makan siang yang kuanggap sarapan.

lalu ada sms dari

“natalie”

“kita bisa bertemu?”

natalie? pacar? mantan pacar? ah entahlah, mungkin kami terlalu eksotis untuk berpisah dan terlalu gila untuk bersama-sama, ketika bersama-sama akan terjadi pertengkaran hebat antara aku dan dia, entah itu dari perkara kecil sampai perkara yang sangat besar, dari mulai a sampai c, dari membentak sampai melemparkan hp, tapi aku tau ini cinta, karena apa? setelah bertengkar kami akan habis bercumbu saja lalu kembali seperti tidak ada apa-apa, aku tak membenci dia, begitu juga dia.

“besok pagi jam 9 ya, aku baru saja bangun” aku membalasnya..

lalu membuka file skrip novelku…

gila, ini bulan ke-4 dan aku masih stuk di bab 4 pertengahan, bahkan aku lupa untuk menghitung hari perhari tenggat, lupa ini lupa itu.

ah berantakan sekali.

lalu aku menulis beberapa lembar lagi…

04.00 am

aku sudah menyelesaikannya sampai bab 5, tapi sepertinya ada yang kurang, tidak implisit, tidak menggedor-gedor hati dan nurani yang membacanya.

kumasak satu indomie, menghabiskannya, bersimpuh duduk yoga selama 2 jam

07.00 am

sudah pagi dan aku baru menyelesaikan bab 5 plus editannya, tidak lebih dan kurang, melihat social mediaku, facebook, twitter, tumblr…tidak ada berita mengejutkan selain beberapa tokoh politik yang lari karena korupsi.

lalu makan lagi…

09.00 am

sudah pagi, sudah waktunya tidur, ah bukan.. aku ada janji dengan lia, aku panggil dia lia, walau dia lebih senang disebut ata, tapi apa peduliku..

mandi? ah sudah 2 hari aku tidak mandi, bercuci muka saja, mengambil kemeja kotak-kota yang sudah seminggu tergantung dipintu kamar, memakasi sepatu kanvas, mengambil ikat rambut dan mengikat rambutku yang acak-acakan, anting di telinga sebelah kiri, dan mouthwash!

cafe de grande 10.00

seorang wanita dengan blazer sudah duduk manis didalamnya, menggunakan blazer hitam, dengan sepatu berhak, cantik, dan pasti mudah ditebak, wanita karir, yang hidupnya penuh dengan visi misi dan kerapian dan masa depan dan bla bla bla bla..cukup aku mendeskripsikannya, yup dia natalie!

“selamat pagi, lia” aku menyapanya lalu duduk didepannya..

secangkir kopi didepannya, dan secangkir kopi didepanku yang sudah dipesannya, lalu 2 slice roti bakar yang sudah siap dipesannya.

“aku ingin kita putus…” aku masih ingat itu kata-kata pertamanya dalam pertemuan kami,,,

“kita? bukannya sudah putus?” lalu diteguknya kopi didepannya, menyicil rotinya dan melihatku dengan amarah, dan emosi seperti biasa.

“kau tampak makin cantik kalau marah” ucapku padanya, dia hanya menggeram, karena tau aku tidak sedang menggombal kata perkata untuk menjilatnya menarik kata-katanya.

“aku tidak bisa begini terus” dia berujar

aku masih diam dengan meneguk secangkir kopiku, lalu memakan rotiku pelan-pelan.

“plisss..bim!”

oya lupa, aku mengenalkan namaku bhumi bima wirawan, anak bapak wirawan seorang pns dari sumatera, keluarga biasa yang tidak punya apa-apa, lalu membesarkan anaknya dengan mati-matian sampai menjadi insinyur dengan predikat cukup lumayan, lalu hampir struk saat mendengar anaknya malah ingin menjadi penulis dan sudah menjadi penulis dan tidak memakai gelar ke-insinyurannya setelah berakit-rakit, habis-habisan mendapatkannya selama 4 tahun lebih.

bhumi…itu aku, pria compang-camping yang bertindik ditelinga kanan, bertato di lengan kiri, jarang mandi, dan memiliki gelar insinyur dengan predikat cumlaude.

gila!

tapi tidak ada yang lebih gila dibanding kau harus menjadi orang lain, lalu bersandiwara mengerjakan sesuatu yang bukan panggilan dirimu selama seumur hidup, selama 4 tahun saja aku sudah mau mati, bukan mau mati menamatkan pendidikan ku, mau mati karena setiap hari aku menjalani hal yang bukan aku ingini.

“lihat kamu! kamu berantakan.. kamu kita sebenarnya aku ini apa? wanita gila yang percaya cinta lalu melupakan masa depannya? berantakan, pengangguran, tidak jelas, rambut gondrong, bertindik, bertato, ah gila saja!” natalie berteriak padaku sambil menahan air matanya, aku tau dia bukan marah padaku, dia marah pada dirinya yang terlanjur jatuh cinta padaku, orang yang mungkin menghambat karirnya.

satu angkatan dengan predikat cumlaude yang sama, lalu dia menjadi arsitek terkenal di perusahaan aristek terkenal, bertemu banyak orang terkenal, merubah penampilan, lalu mengendarai honda jazz seri terbaru setelah 1 tahun bekerja, bolak balik jakarta-makassar-medan-riau kota-kota besar indonesia untuk tender yang dimenangkan perusahaannya, lalu mengambil kuliah s2nya di london 1,5 tahun dan kembali dengan predikat mahasiswa s2 yang punya masa depan cerah untuk bangsa, negara, anak dan suaminya nantinya.

sudah kamu bandingkan saja dia denganku….

“dan aku bukan bank mu” ucapnya sambil mengeluarkan pecahan 100 ribu dari dompetnya untuk membayar sarapan pagi kami. 100 ribu? itu makan ku satu minggu, bahkan sudah menaruh ayam ddidalamnya.

“terserah kamu” lalu dia pergi meninggalkanku disana.

taukah kau arti terserah pada wanita? itu senjata terakhir mereka yang mengartikan dia sudah tidak perduli apapun tentangku lagi, dia sudah lelah, sudah berantakan, sudah tidak menerima apapun alasan ku, bahkan mungkin sudah tidak menerimaku.

“ini kembaliannya mas” ujar penjaga di cafe itu. aku kantongi uang itu untuk makan malamku nanti, lalu berlalu pergi, mengikat rambut.

aku tau ini bukan salahnya, ini bukan salah siapa-siapa ini bukan salah ku juga, ini juga bukan salah orang tuaku yang menginginkan anaknya meneruskan jalannya menjadi insiyur bersahaja dan sukses dalam keluarga, aku berjalan gontai, perlahan, lemas.. aku tau ini perpisahan..perpisahan yang sebenarnya antara aku dan dia..perpisahan yang sebenar-benarnya, yang kulihat dia menyetir mobilnya dengan amarah, lalu pergi dan berlalu, ditinggal aku disini yang tertawa-tawa akan hidup nasib dan persaan.

apartemenku.. 01.00 pm

aku mengantuk…. dan tertidur…

apartemenku..07.00 pm

handphoneku berbunyi..

bersambung


2 thoughts on “larung #1

    1. novelnya sudah hampir kelar rahma, sekarang pelan-pelan di lempar ke pembaca…semoga tertarik
      terimakasih sudah berkunjung di blogkku
      salam🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s