fiksi mini

lalu kau berteriak-teriak padaku, dengan nada tinggi dengan waktu yang kau anggap menjadi musuh besarmu.

mengenalku

seandainya dulu kau tak membuka sedikit saja hatimu, aku tau aku tidak akan bisa menjajahnya menaik lalu melemparnya ke bagian paling bawah, membawanya terbang ke sisi sisi bidadari yang disebut surga lalu menghempaskannya dekat tong sampah. meninggalkanmu yang membenci-membenci dan membenci.

benar kata orang, jarak antara membenci dan mencintai itu sangat tipis sekali, 1mm mungkin ketika jarum keinginan dan emosi menusuk-nusuk dan membelahnya menjadi beberapa bagian yang tidak tersisa.

mengenalku

adalah mimpi buruk bagimu, entahlah, aku juga tidak mengerti.

jangan mencintaiku kataku dahulu, lalu kau melawan kata-kata itu menjadi seukir berlian dari tarsis, sangat keras sekali.

taukah kau? bahwa berlian dan ujung mata pensil terbuat dari bahan yang sama, terbuat dari carbon dengan tingkat kepadatan yang berbeda, lalu sebagaimana berlian tarsis itu perlahan menjadi ujung mata pensil yang mudah patah.

aku sudah titipkan masa laluku di kaki-kaki ku yang berjalan lalu tersesat, meninggalkannya pada satu pusaran yang aku putari, aku doakan lalu aku bakar bersama kenangan.

berhentilah melukai dirimu dan perlahan kau ingin melukaiku, berhentilah menggoreskan hatimu dan perlahan kau ingin aku merasakan goresan yang sama atau lebih dalam dari goresanmu.

aku sudah cukup dengan goresanku, aku juga patah sepertimu, lalu kubebat saja dengan doa, dan bersihkan dengan harapan yang hilang..

hilang? seperti kau yang meminta pergi, lalu kembali, lalu ingin pergi lagi, lalu kembali lagi, ah aku belajar darimu katamu…lalu aku berkaca pada ruang-ruang yang tak bernama, berkaca pada air-air kasih, dan kutemukan..

waktu tak bersalah, memang kita yang bersalah..

lalu melihatmu berjalan bersamanya, aku mulai berjalan sendirian disisi satunya, menghadap seorang yang tersenyum melihatku.

aku berkata lagi kepadanya.

jangan cintai aku…

ini kali ke 4 aku mengulang kalimat itu……

#senyap…..

bandung mulai turun hujan perlahan, dan aku yang kelelahan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s