lorong-lorong

lalu kau ingin dimengerti, di perdulikan sementara bagian-bagian yang terdistribusi bolak balik menjadi satu bentuk disfungsi.

aku sudah cukup kataku, kamu masih berdiri disana, di satu lorong-lorong yang kau sebut harapan.

aku mencoba membelakangimu, tapi aku tau aku tidak bisa membelakangimu…

lalu kau titip bayangan-bayanganmu didepanku, ditidur lelapku sehingga sarafku mencium bau ransang keberadaanmu. lalu aku menjemputmu menuju lorong-lorong yang kita anggap ada, menjadikan tiada menjadi ada kembali, lalu aku mengamatimu perlahan merasuk dari ruang dan jarak yang kita jadikan sedekat 2 cm tapi sayangnya 2 cm yang terbatas antara layar lcd dan led monitor laptopku dan laptopku, berjarak 0,5 cm dari jarak handphoneku ke handphonemu, berbelit pada isyarat-isyarat kita mulai menjajah jarak dan memperagakan filososfi-filosofi yang hidup untuk sekejap.

tapi taukah kau?

aku disini tetap lelah melihatmu yang tetap demikian dingin, seperti peduli tak perduli..

akan kujalani perilaku lakon perlakon ini menjadi satu watak pewayangan sesuai skenariomu, karena skenarioku sudah selesai kutulis dan menjemputmu di lorong-lorong kesepian kita.

mengertilah…aku ingin kita melewati lorong-lorong ini dan berlari di alam bebas..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s