larung #2

ditinggal cinta.

kehilangan pekerjaan

tidak punya uang

dan kamar yang berantakan

sudah cukup menhantui dengan rona-rona kehidupan yang menggeger pada satu dan kemudian menuju dua menuju tiga menuju empat sampai akhirnya aku sekarang benar-benar backpacker.

beberapa barang sudah aku masukkan kekardus dan tersimpan rapi di kosan yang lama, bila beruntung aku bisa membayar sisa uang kontrakan tempo hari, maka aku bisa mengambil beberapa barang itu, ah itu bukan beberapa sepertinya ada banyak, perlengkapan masakku, coffe maker ku, beberapa novel dan bukuku, dan baju-baju ku dan sepatuku dan lainnya, yang tersisa hanya satu kemeja, satu t-shirt, satu sepatu kanvas lecek dan tas yang berisikan beberapa buku, laptop dan cargerannya, lalu modem yang mungkin sudah habis masanya. dan satu lagi, kekecewaan.

aku kecewa dengan diri sendiri, setelah gagal memberi yang terbaik pada orang lain, ditinggal cinta karena dia perlu kejelasan, pernah aku bertanya kejelasan seperti apa? dan seperti biasa wanita jawabannya selalu berlika-lika dan baru menuju liku, aku bingung, lalu kusimpulkan saja, dia butuh pria yang punya masa depan, cinta? ah nanti saja. aku? lalu berkaca didepan toko roti seperti backpacker yang hidup segan matipun tak mau.

berdiri-diri di lamunan yang gontai di senja siang hari.

jogja, fikiranku hanya menuju kesana.

seandainya…ah kali ini tidak, aku percaya pada intuisiku, percaya pada imanku.

aku pernah berintuisi aku akan sukses menerbitkan novelku, aku akan sukses dengan web-webku, dan terakhir sebagai penutup aku akan mengambil gelar doktoralku diamerika. mungkin mereka tertawa, jangankan mereka aku saja tertawa mendengar keinginan diri sendiri, aku tertawa, pada cita-cita anak yang tidak punya masa depan.

“kamu tidak akan berhasil!” teriak seorang ayah kepada anaknya, setelah permisi untuk keluar dari rumah dan tidak menggunakan ijazah ke sarjanaannya.

aku hanya ingin berusaha, ingin berjuang dengan dua tangan, dua kaki, dua mata. lalu apa yang kurang? aku sehat waalfiat, bahkan aku mampu berlari beberapa kilo meter, mampu berenang, aku cuma berfikir, bila orang lain mampu, kenapa aku tidak? kenapa aku harus mengorbankan hidup yang memang hanya cuma sekali untuk menjadi orang lain?

kiara condong, tiket ekonomi

08.30 malam

aku belum makan, lalu membeli 2 roti, dan 1 gelas kopi di selesehan bersama ratusan orang yang siap menuju jogja, surabaya, solo dengan kereta api ekonomi dari bandung.

aku kelaparan setengah mampus, setelah membeli tiket 25.000, kontan sisa uangku hanya 100.000,-

mau jadi apa? ah aku tidak berfikir apa-apa. difikiranku, jogja, lalu aku akan bekerja keras disana, entah juga mau seperti apa.

10.30 malam

aku didalam kereta didepanku ada ibu-ibu sudah tua sekali, disebelahnya anaknya wanita yang aku rasa masih smp, masih muda sekali

disebelahku suaminya yang sudah terlihat tua, lalu aku dan beberapa penjaja makanan.

12.30 malam

aku tidak bisa tertidur, deru-deru kereta menghadang-hadang rasaku, menjiwai diri dan memperlamunkan diri pada malam-malam yang membelah jawa, lalu tinggal di harapan-harapan yang tak bertuan, berjuang sendiri, lalu berkolaborasi dengan harkat dan martabat atau mungkin saja dengan keningratan dan nama besar keluarga, komples, sekompleks antara unsur, urutan nama kimia yang lengkap, sekompleks satu periodik atom yang momentumnya sangat mengerikan. ah sudahlah demikianlah kira-kira.

01.30 dini hari

aku lapar, aduh perut mengapa kau tidak tau aku sedang susah, aku tidak punya uang untuk makan, aku tidak punya apa-apa, aku harus menghemat untuk melanjutkan hidup berpacu pada mimpi.

03.00 dini hari

“kamu, kalau punya sesuatu diperjuangkan toh mas”

berapa jam, saya hanya diam diantara satu keluarga kecil ini, tidak mengatakan apa-apa, tidak bicara apa-apa, tidak mengkoding satu kondisi apa-apa, lalu mendadak si bapak berpesan demikian kepada saya. lalu siapa dia? seorang paranormal yang bisa membaca fikiran orang lain? tukang sulap keliling kampung, atau punya indra keenam untuk membaca bagaimana perihal pertanyan diri kepada hati, yang terkonotasi dari sudut mata saya yang kosong.

haha bodoh

“nje, pak” saya diam lagi melanjutkan angan-angan…

tapi bukannya seorang pria itu harus bertanggung jawab pada dirinya, pada keluarganya, pada cintanya, pada orang yang dikasihinya, lalu bukannya seorang pria itu tidak boleh lari dari kenyataan, lalu apa gunanya diberi tenaga yang berlebih kalau lalu berlalu lari dari keadaan hanya untuk menjadi yang tidak diinginkan, aku ditinggal cinta, berujar melawan orangtua, lari dari nasib dan kenyataan tapi tak kutemukan juga kebahagiaan.

aku curiga kebahagiaan itu didalam fikiran saja……

 

#BERSAMBUNG


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s