cola float-

“aku membencimu!” teriaknya, masih ingat sekali saat itu baru pulang makan pizza, kami berantem hebat.

belum juga masuk mobil, seperti sandiwara yang dilihat oleh orang-0rang sekitar, ah apa peduliku asal jangan terjadi apa-apa saja dengannya.

“sudah kamu masuk mobil dulu” paksaku

“tidak, aku pulang sendiri saja” ini senjatamu yang paling aku benci, mengancam pulang sendiri malam-malam.

“kamu masuk, aku masuk, kita bicara didalam sayang” bujukku.

aku mendahuluinya masuk kedalam mobil, seperti menuntun anak kecil untuk melakukan apa yang kita lakukan. GUBRAK

dia menendang dashbord depan mobilku, aku hanya tersenyum, dia sedang marah besar ternyata, lalu masuk dengan muka yang ah aku tidak mau menggambarkannya, aku diam, dia diam, lalu kunyalakan mobilku, dia masih diam..

semenit, dua menit, lima menit, sepuluh menit

lalu menangis, dari pelan-pelan sampai mengeluarkan semua air matanya dan uneg-unegnya.
“kamu selingkuh” dia terisak-isak membicarakan kalimat itu, kata temenku dia melihatmu dengan cewe lain malam-malam, waktu aku sibuk ujian. kamu jahat, kamu jahat sama aku, mama bener, ga ada yang baik banget, ga ada yang bener-bener sayang kalau belum menikah” aku tau kamu sudah tidak tahan lagi menahan air matamu.

Biasanya kamu tidak begini, tidak marah yang berlebihan. menunggumu mereda aku hanya memegang tangan kananmu dengan tangan kiriku, erat sekali, aku tidak ingin kehilanganmu lagi dan sepertinya kamu juga tidak ingin kehilanganku lagi.

“aku tidak menyelingkuhimu”

tunggu, sebenarnya apa arti selingkuh? membagi hati? aku tidak pernah membagi hati kepada orang lain selain kepadamu, aku begitu mengagumi dan menyayangimu bagaimana bisa aku membagi apa yang sudah kuberikan padamu, apa arti selingkuh? membagi tubuh? aku tidak pernah menciumnya, memegang tangannya itupun karena dia hampir terjatuh, bila arti selingkuh adalah membagi waktu, apa itu bukan naif?

aku memang banyak membagi waktu dengannya, kami satu kampus, dia juniorku dia banyak belajar dariku, dia sering menungguiku pulang dari kelas untuk mengajarinya hal-hal kontekstual, beberapa malam ketika kamu sedang sibuk atau sedang sibuk ngambek tidak mengangkat telfonku, aku mengangkat telfonnya yang bercerita tentang pria-pria satu kampus yang notabene adalah temanku yang mendekatinya secara detail, lalu kami tertawa-tawa.

atau saat kamu tak membalas sms-smsku karena sedang marah, aku membalas sms darinya yang bertanya sudah makan apa belum atau sekedar mengajak makan siang bersama di kantin. atau kamu yang sibuk dengan ujian-ujianmu dan tidak ingin aku ganggu, aku sedang belajar di perpustakaan dan dia datang tanpa sepengetahuanku dan membawakan makanan lalu kami tertawa-tawa sampai sore, mungkin aku mengantarkannya pulang,  tidak lebih.

sesekali kami berdebat, sesekali dia bicara aku tidak menyanggah, aku bicara dia tidak menyanggah, lalu tanpa sadar kami sudah sampai didepan kosannya.

“cintaku? hatiku? masih padamu. utuh, tidak tersentuh, apa itu selingkuh? aku tidak mengerti jawaban singkat atas pertanyaan-pertanyaan mu”.

setelah aku berbicara panjang lebar lalu keluar dari mobil, dia memelukku di bawah kosannya. aku tau dia sedang kangen, setelah kami lama berjalan sendiri-sendiri dan itu juga atas permintaannya

“aku benci mencintaimu”

“kalau aku tidak pernah benci” jawabku

“aku benci kalau harus bergantung padamu, kalau harus terus-terusan akan cemburu”

aku mengusap kepalanya pelan-pelan, seperti menekan tombol silent di hp. dia menjadi diam dan sangat damai.

dia memang tampak lelah setelah ujian berturut beberapa hari ini, lalu menyuruhnya masuk kekamarnya. dia mengangguk, tidak ada perlawanan seperti biasanya, tampaknya dia mulai sadar posisiku di hidupnya, tampak nya dia sadar aku mulai menjajahnya, ah dari dulu juga kamu telah menjajahku wanitaku, menjajah jam tidurku dengan memikirkanmu, menjajah malam-malamku yang kesepian kalau kamu sedang marah dan tidak ingin dihubungi apalagi ditemui, atau aku yang harus bersabar di akhir bulan kalau kamu akan menjadi sangat menjengkelkan karena siklus PMS mu.

aku lalu pulang meninggalkanmu yang sudah nyenyak tidurnya, meninggalkan kita yang sudah baik-baikan, yang sudah kembali seperti semula, yang sudah kembali ke jalurnya.

aku pulang dulu.

“iya” kamu tersenyum.

aku tersenyum sambil masuk kemobilku.

“tunggu dulu”

ya…

lalu kamu mencium rambut botak baruku.

“aku sayang kamu”aku tau itu serius, karena kamu jarang sekali mengatakan hal-hal seperti itu

aku tersenyum, lalu membalas mencium keningmu, masuk kemobil menghidupkannya dan berjalan pulang kekosan. sambil mendengar lagu cola-float dari radio kita.

aku sayang sekali padamu…tegunku sambil berlalu menyetir di tengah malam sendirian, ah bukan, ada boneka mu yang tertinggal di jok sampingku.

*menulis ini saat teringat kamu sambil mendengarkan lagu cola-float, aku (masih) sayang kamu*

“And the day came when the risk to remain tight in a bud was more painful than the risk it took to blossom.


2 thoughts on “cola float-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s