mungkin sepatunya masih kotor

semalam kamu bercerita tentang pacarnya mantan pacarmu yang seperti meneror keberadaanmu yang kembali satu kota dengan mereka, ah logisme itu seperti sulit sekali pacar-mantan-pacar, kamu seperti bermain rubrik tanpa membaca cara penyelesaiannya dahulu, hasilnya? seperti berlama-lama saja untuk menyelesaikannya, atau di game yang baru kamu temui kamu seperti berlomba untuk masuk ke case yang baru tanpa membaca penjelasan didepannya terlebih dahulu.

kamu marah, tapi bukannya kamu juga seperti itu, aku sedang tidak membela siapa-siapa

kamu pernah mencemburui aku dan mantan pacarku ketika kita masih berpacaran, mantan pacarku juga pernah mencemburui aku dengan mantan pacarku yang lain- hal yang lumrah sekali

bukannya semua punya emosi mungkin bentuk perlakuan emosi itu yang berbeda, dahulu kamu sebelnya hanya padaku, sedang dia sebelnya berani mengirimimu pesan yang bernada mengancam, terasa seperti kekanak-kanakan sebenarnya.

ah kamu, sudahlah, itu masa lalu kamu yang pernah aku bantu kuburkan, sekarang hal yang sudah kamu kuburkan itu menyeruak minta perhatian, seperti anak kecil saja.

aku tidak sedang membelamu, tidak sedang membela dia.

cuma bukankah untuk berlari kita harus menyiapkan diri, fisik dan rute terlebih dahulu agar tidak tersesat, aku tau rute sudah kamu miliki, jadi mungkin sepatunya saja yang masih kotor sisa menginjak masa lalu..

bersihkanlah dulu

*untukmu febe, perkara curhatanmu kemarin*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s