parade denganmu

Aku seperti baru terhempas pada tingkat tertinggi dalam hidupku, sudah jatuh tertimpa tangga, sudah tertimpa tangga terkotori oleh cat, ah rasanya seperti film lelucon dono kasino indro saja yang adegannya berturut-turut menyiksa untuk membuat penonton terbahak.

lalu terbangun dari mimpi buruk, suara pelan saxofone dari bunyi handphone yang perlahan.

satu panggilan tidak terjawab darinya.

“kamu pacarnya?” ujar temanku ketika kami berjalan menyusur dago

“bukan”

“tapi hatiku seperti dagdigdug ser melihatnya” elakku

aku mengulangi pernyataan terakhir sampai ke empat kali kepada teman-temanku, saat minum susu tengah malam didekat unikom, saat dikamarku, dan saat ngobrol berdua dengan teman dekatku yang baru saja diberi pernyataan cinta oleh teman ku juga. ah komplit seperti soto betawi edisi komplit di gelap nyawang. heh, aku malah jadi kelaparan sekarang!

tapi hatiku dagdigdug itu baru kali ini kurasakan semenjak terakhir kira-kira 2007 saat aku pertama kali jalan dengan pacarku, jadi kira-kira ini sudah jalan 4 tahun, tahun ke empat saat aku merasa jantungku seperti terlemparlempar dan kata-kataku menjadi gagu.

“bagaimana perkembangannya?” tanya temanku di ym, saat aku harus bedrest di tempat tidur karena sakit tempo hari yang belum kunjung sembuh karena aku yang tidak istirahat.

“tidak ada perkembangan, tapi aku rasa aku sedang jatuh cinta”

aku seperti anak ingusan yang jatuh cinta di cinta monyetnya, malu-malu tapi mau, ingin dijitak saja kepala ini rasanya

tak ada perkembangan, kecuali aku yang seperti stalker melihat foto-fotonya dari facebook dan timelinenya dari twitterku, ah basi! tapi aku menikmati menjadi stalker kali ini, dan perlu dicatat aku bukan stalker dan tidak pernah juga mencari tau orang sedetail ini.

“sudah menjadi pacarmu?” tanya temanku di luar negri ketika tempo hari kami yman, aku seperti tidak tahan, dan kuceritakan pada mereka perasaanku kepada wanita itu, tapi bodohnya, kenapa tidak kuceritakan perasaan ku pada wanita itu langsung? ada yang membuat kami, tepatnya aku merasa belum waktunya. dia yang baru putus dari pacar nya dan beberapa konsep yang tidak ingin aku langgar dari dulu.. atau aku harus membuat exception untuknya? mungkin saja, tapi nantilah suatu saat.

perlahan-lahan ada firasat yang sedang berjuang-juang minta dipercaya, seperti iya dan tidak ditengah-tengah nanti

ah bahasaku semakin membingungkan, seperti membingungkannya fikiranku akannya.

wanita itu, cantik menurutku, rambutnya sebahu, kulitnya putih, sedikit judes, senyumnya seperti bisa meluluhkan kerajaan singosari dalam satu malam. aku berkenalan sekali dengannya, menikmati senyumnya, lalu hilang berbulan, kemudian bertegur sapa lagi di seputaran maulana yusuf, tapi sayang aku sedang dikejar waktu saat itu, dan dia dengan teman-temannya, lalu berakhir dengan bertukar nomor handphone.

tidak ada epilog antara kami, atau seperti mukadimah di album dewa. tidak ada basa-basi, tidak ada isyarat berlebih

yang aku tau aku menyukainya sejak pertama, tidak lebih, tidak lebih karena dia memang menarik dan cantik, dan kata temanku dia tertarik padaku dari matanya, hal yang aku tidak percaya sampai hari ini.

tapi aku bukan pria yang mudah dijajah oleh senyum wanita, aku bukan pria yang mudah jatuh cintanya. seperti sulit sekali mencintai wanita lain sejak kepergiannya bertahun-tahun yang lalu, aku menjalani dan berusaha mencintai yang lain dengan hasil yang tidak jauh berbeda .. gagal, tapi show must goon, aku masih berdiri tegak sampai pada saat itu.

“kenalin, temenku…”

aku menjabat namanya, menyebut namaku sambil tersenyum, lalu dia menjabat tanganku sambil tersenyum juga.

aku membiarkannya berbicara lama dengan sahabatku, aku mengambil jarak dari mereka, sesekali dia bertanya padaku, aku jawab singkat,  terkesan tidak perduli padahal aku sedang menyelediki hatiku yang tiba-tiba gelisah karenanya. jawabannya? haha, bego tidak ada jawaban di hati ini.

lalu waktu berlalu pergi, dan kita bertemu lagi.

aku ingin berkenalan lebih dekat dengannya itu tujuan terdekatku, sebelum aku pindah dari kota ini, dan sebelum dia akan sulit tergapai karena satu dan lain hal.

tapi diatas semua itu setidaknya terimakasih wanita, kamu membuat jantungku berdegup kencang lagi, seperti baru berlari-lari sekeliling sabuga sampai lemas! atau seperti aku kehabisan nafas di tanjakan dago atas sabtu pagi dahulu.

hebat!

Just tell me have you ever really,
really, really, ever loved a woman? You got to tell me
Just tell me have you ever really,
really, really, ever loved a woman?

ah sudah, nanti kalau ada kesempatan lagi, aku menghubunginya lagi, dan mengajaknya jalan keluar.

*bandung sudah malam, dan aku kelaparan-makan dulu*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s