wanita itu lupa mungkin..

“apa kamu kira memori ku seperti sd card yang bisa dihapus begitu saja? tinggal didelete dan menghilang?”

“apa kamu kira jadi kalau kamu sudah pergi, lalu urusanmu denganku sudah selesai?”

“trus? sekarang wanita mana lagi yang sudah jalan sama kamu?”

“why you so heartless?”

” kamu tau? kamu bisa pergi kemana saja, tapi kamu tidak bisa sembunyi dari ku…..!”

menjawab runtutan kalimat dengan nada meninggi diatas aku hanya diam, tidak membalas. aku tidak ingin ada konflik lagi antara dia dan aku, tidak ingin, sama sekali tidak ingin.

hei cantik, aku tidak lari darimu apa lagi sembunyi, aku masih disini membiarkanmu yang malah berlari-lari di trek sendiri, aku juga tidak ingin mengganggumu dengan kata-kata atau memprosakanmu dalam nada-nada seperti yang kukirim padamu tempo hari dari email. aku tau ini akan terjadi, dan tidak kutakuti juga. hei manisku, aku tidak mencoba menyingkirkanmu dariku, bukannya kamu yang mengingini aku menjauh?

logismenya, seperti kamu membelah sebagian hatiku lalu membawanya pergi berlari, dan sayangnya aku hanya bisa diam dengan potongan hati yang masih terpotong. masih terkejut….

bila aku cukup diam, mungkin karena aku laki-laki yang tidak bisa mengakomondasi rasa sedih menjadi tangis air mata tiap malam, aku pria yang akan menjadi imam bagi wanita ku. bagaimana bisa aku lebih lemah dari mereka? bagaimana bisa aku turut menangis bila wanitaku menangis? aku sedih, kamu tau sebagaimana kesedihanku, tapi kenapa kamu hanya berfikir lalu melihat dari mata dadumu saja? tidakkah kamu ingin melihat dari mata daduku? aku tau kamu sedih, tapi apa kesedihanmu akan hilang bila aku akan kembali? sama seperti saat kaca yang sudah pecah, kadang tidak perlulah menyimpan pecahannya sebagai kenangan, karena itu dapat melukaimu suatu saat.

aku masih disini, berdansa pada kesenangan dan kesibukanku, kamu? ada disisi hatiku satunya, kusimpan sangat rapi.

kadang bila malam kutemui kamu dari doa-doa dan rona-rona di kesendirian, atau taukah lagu yang kumainkan dari gitar tempo hari kupost di blog? itu hanya untuk memberi tanda bahwa aku merindukanmu walau tanpa perlu menyentuhmu tapi tetap meninggalkan jejak-jejak langkah.

*kekasihmu..yang amarahmu sampai padanya pagi itu*

suatu pagi dikota bandung, beberapa bulan yang lalu….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s