kau tau?

Ada representasi yang berlebihan yang masuk dalam pola fikir ku sore ini. Ditambah menjadi seperti esai  dengan Jakarta dengan macet yang tak tanggung-tanggung seperti harapan yang terbelenggu pada kotak fikiranku yang seharusnya tidak terbatas, Tidak ada yang salah dengan apa yang terjadi sekarang ini, tidak juga dengan kita, tidak juga denganmu, tidak juga dengan semua apapun yang semua mahkluk  jalani sekarang.

Kau tau manis? Betapa aku menginginimu lalu mengaggumimu, bahkan segalanya tentangmu, tidak juga tentang yang lain, tidak tentang mereka atau siapalah yang menjadi bukti konkrit yang berpasang-pasangan dalam hidup.

Aku merinduimu begitu melihat dan sadar ada rindu yang tertuang-tuang pada doa kemarin malam dari ibu yang merindukan anaknya yang tidak pulang-pulang hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil ketika ditinggal mati oleh ayah mereka, ada doa di tengah malam yang khusuk dari ribuan atau jutaan makhluk yang patah hati, ah indah sekali ketika mereka hanya  mengadu-ngadu kepada khalik pencipta langit.

Ada doa yang terjawab, ada doa yang belum terjawab atau mungkin ada doa yang habis ditinggal usia tidak terjawab, aku rasa mungkin saja niatan doa itu yang salah, atau ada juga ucapan yang keluar lalu berbalik sendiri kepada orang yang dituju.

Aku masih ingat sore itu di suatu waktu di pinggiran braga ketika seorang kakek pemulung memegang lembut tangan istrinya ketika mereka menyebrang di jalanan, sentuhan antara dua kulit keriput yang menggeger-geger makna cinta yang coba kita belah dahulu, miris kurasa.

Atau ketika suatu sore di starbucks aku melihat ada anak-anak muda yang saling jatuh cinta, yang saling berpelukan pertanda suka, lalu 5 menit kemudian berdiam-diaman, satu mengambek mungkin, lalu satu lagi membujuknya dengan sabar, 10 menit kemudian mereka kembali lagi tertawa terbahak-bahak.

Atau Ada pria yang gagah berani di rambut putih mereka yang mendorong seorang wanita dengan kursi roda sore itu ketika aku sedang berobat batukku di Rumah sakit, sabar sekali tangan kanan si wanita berambut putih itu memegang tangan pria yang sudah tua,  pelan-pelan, keduanya seperti tidak ingin kehilangan satu sama lainnya.

Aku ingat ada rindu yang tumbuh di meja kerja saat mata bertemu mata melihat lebih jauh, mendalam, bahkan membuat tidak tidur. Ada cinta yang mengintip seperti pencuri kepada sang calon pengantin yang sudah mengatur jadwal menikah dia dan pacarnya.

Ada cinta yang menguntit dari seorang patah hati yang siap disirami hati yang kosong.

Karena taukah kau makna cinta yang ada sayang?

Ah… indah sekali. Membikin rindu semakin mengilu… pilu mengiris perlahan dan selalu menemukan lembaran baru.

percayalah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s