mengenangmu (prosa)

Aku diiring-iring oleh nada yang bernuansa lalu perlahan mendayu masuk kejiwa dan berhenti di bagian paling jauh dari sudut hati. Aku tidak pernah sadar itu menusuk-nusuk sampai dalam diri, membiarkannya perlahan-lahan terbuka lalu tersadar semua mendadak dijernihkan oleh fikiran tentang-mu. Lalu Fikiranku meloncat-loncat jauh pada memori-memori yang terbangun dahulu.

Dewi..

Wanita itu duduk di sebelahku, menengadahkan tangannya di tanganku, lalu bermanja-manja karena kelelahan bekerja dari siang sampai sore. Perlahan tanganku memegang erat tangannya, lembut dan memainkan jari-jemarinya pelan-pelan.

Puncak bukit, 23.30 

Aku memang duduk diatas gundukan bukit ini, tapi hatiku sedang berdiri-diri di balik luapan-luapan yang menjadikan sesuatu yang tidak nyata tampak nyata. Berharap-harap akan berhasil melawan angkara yang tumbuh lalu berkembang bahkan menjamur dalam jiwa. Kadang disampingmu membuatku bertanya siapakah yang paling bertanggung jawab dalam alunan-alunan gong yang bergema-gema dalam malam yang kelelahan ditinggal bulan. Atau kadang ketika disampingmu aku berfikir tidak kebetulan bila matahari, bulan dan bintang berada di garis sejajar. Atau mungkin mereka sedang merindu satu sama lain?

Disini, gelap membentang dari utara ke selatan, lalu ada bintang kecil yang pelan-pelan muncul dari persembunyiannya, seakan-akan sedang berdrama bercerita sedih tentang kesepiannya yang ditinggal oleh bulan.

Lalu aku melihat ada cahaya lampu yang bergerak-gerak diatas langit, ah aku rasa itu cahaya pesawat dari timur ke barat. Mungkin ke sumatera, entah bagian apa. Setidaknya dengan menghafal arah mata angin aku bisa tahu bentuk perjalanan dan tujuannya kemana, lalu mengkalibrasi rasi-rasi bintang yang gilang gemilang diantara kita berdua.

Puncak bukit, 23.50

Aku dan kau masih diam, masih menikmati cahaya lampu kota yang memberikan nuansa alami dari persinggahan diri, tanganmu masih memegang tanganku begitu erat.

Kita memang sedang tidak bicara apa-apa, tapi aku tau hatimu dan hatiku sedang ber balas-balas cerita tentang kisah romansa cinta yang dulu tidak kesampaian. Mungkin hatiku sedang  bercerita tentang kisah hayam wuruk yang tersakiti karena ditinggal dyah pitaloka atau hatimu yang bercerita sengit tentang lambang cinta abadi Kaisar Shan Jahan untuk istrinya Mumtaz Mahal yang menghasilkan taj mahal yang agung.

Kita berbelit-belit. Yang kutau jantungku berdetak kencang-sekali

Semacam baru berlari-lari berkeliling lapangan sepak bola, ah mana mungkin aku bisa tidak percaya diri didepanmu.

Puncak bukit, 00.00

Sambil merogoh kantongku, yang membuat kepalamu terganggu letaknya aku lalu menengadah, menghadapmu, memberi cincin dan berkata.

“sayang, kau bersedia menjadi ibu anak-anakku?”

Matamu berbinar-lalu berair …menjawab……..

—————————— ———————– —————————-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s