saat tilang menilang terjadi…

tempo hari ketika di jalan menuju rumah di bekasi dari kosan di jakarta, saya melewati daerah kalimalang.

ketika berbelok kekiri, which is itu adalah hari terakhir puasa (besoknya adalah lebaran) saya dengan menggunakan mobil dan beberapa pengemudi disebelah saya yang dalam pandangan saya adalah pemudik yang menggunakan sepeda motor (dilihat dari pakaian dan penggunaannya) beriringan, sesampainya dipertigaan lalu menuju ke kalimalang adalah mengambil arah kekanan.

beberapa oknum polisi melakukan razia didaerah tersebut.

mungkin karena beruntung saya menggunakan mobil, akhirnya saya bisa lewat dari razia tersebut, tapi sayangnya ada banyak sekali para pemudik yang menggunakan sepeda motor yang terkena razia dari patroli polisi tersebut.

entah bagaimana, saya sebagai masyarakat seperti semacam tertohok oleh perlakuan mereka terhadap para pemudik it. Pada satu sisi saya setuju memang benar adanya, disiplin berkendara harus dijalankan dengan baik dan benar, dan harus dituruti tata-aturannya, namun pertanyaan berikutnya, disiplin berkendara yang bagaimana dan menggunakan standar dari siapa yang harus kita ikuti?

polisi? beberapa masyarakat pernah atau sebut saja sering diperlakukan tidak adil oleh penegak hukum di jalanan tersebut, di tilang tanpa alasan yang kuat bahkan memperkarakan sampai hal terkecil,sebagai contoh pentil sepeda motor yang hilang (whaat!) ya siapa juga sebenarnya yang memperhatikan kelengkapan kendaraannya sedetail itu, mungkin saja dicuri oleh orang lain atau apalah.

atau pernah ketika saya salah memutar di suatu bundaran dijakarta karena baru pindah dari bandung, saya ditilang, saya minta maaf, mengaku salah, atau berfikir sebenarnya apa benar saya salah, atas kekeliruan, sebenarnya saya minta maaf sama siapa? polisi? apa mereka yang “memiliki” undang undang dan peraturan lalu mereka memiliki jalan?toh mereka penegak, yang bersifat sama tinggi dan sama rendah dengan pengguna.

lalu berakhir dengan meminta “uang damai” kepada saya. Entah maksud uang damai itu apa, saya sama sekali tidak melawan, saya mengaku salah, saya mengaku baru, lalu saya meminta slip tilang biru,  menurut hemat saya mereka melakukan penilangan sewenang wenang.hampir sejam polisi memperkarakan saya di pinggir jalan dan untungnya saya tidak mau berdamai atau apalah istilah mereka tersebut. saya salah-tidak disengaja-minta surat tilang biru-bayar di atm-selesai masalah.

dan berakhir polisi tersebut menyerah dan memberi saya surat tilang merah, karena menganggap saya melawan. what the …

sebenarnya dalam satu kondisi masyarakat juga gerah dengan tingkah dan polah yang demikian, tapi mau bagaimana lagi?

kadang saya ingin memperkarakan satu kondisi mereka seharusnya punya sense yang namanya hati nurani di mana semua orang pernah secara sengaja atau tidak sengaja melakukan pelanggaran, dan alangkah sebaiknya ketika pelanggaran itu dipilah-pilah bukan dijadikan satu atap yang menciptakan kesan arogan.

besar harapan saya para penegak hukum ” yang masih nakal ” yang terhormat masih memiliki sense bermasyarakat juga. bukan memandang pemakai kendaraan adalah objek perasan, dan semoga pengguna kendaraan sadar memiliki posisi yang setingkat dengan polisi dalam menciptakan transportasi bermasyarakat yang aman dan nyaman.

tapi entahlah demi apapun saya tidak akan membayar sepeserpun untuk satu nilai ketidakjujuran.

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s