berceritalah pada langit bahwa kita pernah bersama sama

sabtu pagi…

wanita itu…

orang pertamayang kukenal di kampus ketika aku ujian menyambung sekolah pasca ku, lalu kami berbicara panjang lebar tentang banyak hal, wanita itu yang mengajarkan banyak sekali pelajaran-pelajaran baru padaku, wanita itu yang membuatku jengkel, wanita itu yang membantu menyelesaikan modelling di penelitian tesisku sampai malam, pagi, siang sehingga aku bisa sidang tepat waktu, wanita itu yang pertama kali menguatkan ketika aku putus cintanya, wanita itu yang menguatkan aku ketika ditinggal dengan cintanya. wanita itu yang berdiri pertama kali ketika aku berada dalam kesulitan.

wanita itu

kita sahabat yang dekat sekali, kita membagi banyak waktu bersama-sama, tertawa, kamu yang sebel padaku, aku yang sebel padamu, kita yang membagi banyak makanan, minuman, waktu, cerita, curhatan, tangisanmu-tangisanku bersama-sama.

aku merepresentasikan diriku dikaca dengan dirimu, kita banyak sekali kesamaanya.

si optimis yang pantang dipandang sebelah mata oleh orang lain, si pekerja keras yang pantang dilangkahi, si pemikir yang hampir selalu ingin memimpin apa saja.

kadang aku merasakan apa yang kamu rasakan, kadang kamu merasakan apa yang aku rasakan. seperti tergabung pada satu induksi dan deduksi aliran listrik statis.

bahkan kita tidak perlu pula untuk bercerita tentang a, b, c dari kata kata yang tersusun menjadi kalimat. yang kutau pandangan mataku dan pandangan matamu adalah komunikasi paling ciamik dalam hubungan persahabatan kita.

tidak ada cinta?, ah bukan cinta? banyak sekali.. aku mencintaimu sebagai sahabatku, mencintaimu sebagai wanita kedua yang terdekat denganku setelah pacarku, dan hebatnya beberapa pacarku menjalin hubungan yang sangat baik dengan mu, beberapanya malah merasa cemburu dengan kedekatan kita. aku tidak pernah menganggapmu kakak, sehingga aku bisa jadi adiknya, aku tidak pernah menganggapmu menjadi adik, sehingga aku bisa menjadi kakaknya, aku menganggapmu serata, sama, sehingga aku sering memperlakukan dirimu seperti memperlakukan diriku, memperlakukan orang yang terdekat dengan ku.

sore itu aku berdiri dengan pack reebokku bersiap berangkat..

menungguimu yang katanya mau datang menemuiku, aku akan pergi jauh, cuma aku belum menceritakan apa apa padamu, tempo hari aku bertanya kapan kamu akan menikah, sebenarnya aku sedang menyerentakan jadwal kepergianku dengan pernikahanmu, adalah haram bagiku bila tidak hadir di akadmu.

kamu datang, wajahmu begitu lelah, entah aku tidak tau, tapi kadang untuk menghadapimu aku lebih percaya apa yang ada difikiranku dibanding apa yang kamu ucapkan

“aku baik baik saja” jawabmu..

aku tersenyum, aku tau kamu sedang tidak baik. aku juga tidak mengerti dengan apapun ini, tidak mengerti tentang persahabatan yang berujung dengan ketidak jelasan.

aku memelukmu, seperti biasa.

dan mengucapkan

“jaga dirimu baik-baik”

ucapan itu adalah kamuflase ketika aku tidak lagi ada di seputaran hidupmu, ketika aku hanya ada di bagian bagian yang jauh terpisahkan.

lalu aku berlalu pergi….

menginggalkan cerita tentang persahabatan kita untuk dikenang…

dan diceritakan nanti kepada anak anak kita

bahwa kamu adalah salah satu wanita yang sangat berpengaruh dalam prosesku menjadi matang…

*merindukanmu sahabatku, dengan tulus*…

sangat..

menulis saat merindukannya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s