Hidup ini

sampai saat ini aku belum habis fikir dengan tipikal mereka yang show off akan kemampuannya, perkara meeting tadi pagi di luaran kantor, seharian di mobil dengan orang yang membicarakan jumlah gaji mereka, apa yang mereka beli, apa yang mampu mereka lakukan.

kadang aku merasa mungkin aku merasa pernah menjadi seperti itu, tidak salah, seandainya iya, aku ingin belajar untuk berkaca, aku hanya seorang manusia biasa yang untuk sombong saja tidak layak.

semenjak 7 bulanan kemarin ketika menjadi karyawan untuk satu perusahaan di jakarta di proyek jalan tol, yang menjadi pijakan atau sebut saja loncatan pertamaku didunia bekerja, fresh graduate yang benar benar masih miskin, bukan dalam makna kiasan, tapi makna sebenarnya, aku menyelesaikan pendidikan engineering di kampus Gajah duduk tamat dan memulai semuanya dari nol-besar sebut saja. miskin pengalaman apa lagi uang.

perlahan-lahan kehidupan membaik, ratusan ribu biaya hidup perbulan ku berubah menjadi bertambah nolnya, aku sudah bisa hidup di tempat yang lebih baik, dengan kendaraan yang lebih baik, gadget dan makan di tempat tempat yang ketika aku mahasiswa hanya bisa kupandang, karena sangat mahal adanya.-hal yang sampai saat ini bagiku luar biasa karena Dia Pencipta yang maha pengasih.

disini lalu aku bertemu dengan banyak orang-rekanan-partner kerja, tapi tetap tak habis fikir dengan mereka mereka yang ketika bicara sibuk membicarakan kesuksesan kesuksesan mereka, tender tender besar yang berhasil dimenangkan, ambisi ambisi berbau jahat untuk menjatuhkan perusahaan lain, cerita tentang pemasukannya perbulan yang sampai hitungan tiga digit didepan angka, tentang kehebatannya ini -itu entah mungkin sedang menggurui anak kemarin sore yang belum berpengalaman ini.

awalnya aku rasa itu hanya obrolan sekali dua kali, namun malah semakin berlarut larut.

kadang aku berfikir mereka mereka yang sedang showoff adalah mereka mereka yang butuh pengakuan, butuh di-‘iya’kan sebut saja. butuh di nomor satukan, atau malah butuh sanjungan sampai sampai perlu mejatuhkan sahabat dan rekanan sendiri untuk meninggikan dirinya.

menjadi seperti itu karena kurangnya pengakuan?

sekarang aku sedang belajar di rimba kehidupan, baru saja bergelantung gelantung di ranting ranting yang tidak menentu dan kuharap aku tidak terperosok jatuh ke perangkap kesombongan yang tertanam di hampir semua jalan jalan dan hutan hutan hidup ini.

kita yang kerdil ini.. entahlah.terkadang sombong sekali


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s