peri cintaku

ratna galih attaliya

Di tengah hujan kembang api, hari itu jumat jam 6 sore, demonstran semakin tidak terkendali, kita semua berkumpul didepan gedung DPR, jalan gatot subroto, pusat kota Jakarta.

mulai malam dan sebagian orang sudah berlari menjauh.

Kami mulai ditembaki gas air mata oleh polisi, sebagian memang berlarian, sebagian melawan dengan keadaan, kami aktivis bukan penyamun yang bisa diusir dengan gas air mata, bila ingin diusir kita boleh berdebat dulu sepanjang malam.

Sebagian di posisi depan beberapa rekan mahasiswa mulai mundur, karena mata yang mulai perih, dibaris kedua, ada golongan ibu ibu yang ketakutan, sebagian besar tanpa suami mereka, sebagian besar sudah renta. Dan di sisi sayap kiri ada generasi masyarakat yang menembakkan kembang api, langit seperti membuncah dengan kembang api yang tidak putus putus, bukan sedang berbahagia bahwa kita akan lebaran, tapi berduka bahwa masyarakat ini sudah diperkosa hak hak standar hidupnya.

Dalam beberapa menit ribuan aktivis menyingkir, begitu juga aku dan teman teman, lokasi yang tadinya dipenuhi oleh aktivis mulai kosong dan sepi, tersisa teriakan

“hidup rakyat, hidup rakyat yang menggelegar dan bernyanyi bersama sinar kembang api di langit Jakarta yang mengharu biru:

“ kita mundur dulu!”

Seorang menepuk bahuku dari samping, Seno Ketua himpunan Teknik Mesin mengambil langkah untuk mengambi nafas dahulu

“jangan!” kita disini saja , menunggu hingga sidang paripurna DPR itu selesai, dan tau hasil nya

“teman teman mulai tersingkir” mendadak agung teman dari BEM trisakti memberi pengarahan pada kami

“kita jauh jauh ke Jakarta bukan untuk menepi!” teriakku,

Keadaan sudah semakin tidak terkendali, pagar pagar gedung DPR sudah hancur oleh massa organisasi masyarakat, begitu juga pagar tol dalam kota di Gatot subroto.

Pendemo merengksek masuk, teman teman mahasiswa mulai mundur di bagian kedua, sebagian mahasiswi dilindungi di lapis ke dua. Coverage semakin meluas.

“aryo…”

Aku menoleh..

“ga….lih”

“Kita kumpul di alun utara, kondisi semakin tidak terkendali, masyarakat semakin anarkis, bisa bahaya kalau kita masuk dan mencontoh yang sama”

Dia menarik tanganku yang dingin tak mampu berkata, aku membeku, lalu membisu ditarik Wanita itu

ratna galih attaliya, cinta pertama dan terakhirku. wanita cerdas yang cantik, sekali Mau mati saja rasanya bertemu dia lagi.

aku mengingat

Kisahku dengannya seperti Seperti cerita dewi sekartaji putri prabu brawijaya, yang lari menghilang karena akan dilamar raden kelono yang tidak disukai perangainya yang urakan. lalu prabu brawijaya mengadakan sayembara untuk menemukan dewi sekartaji.

Hadiah bagi pemenang, jika pria akan menjadi suami dewi sekartaji, dan perempuan jadi saudaranya. Lalu seorang bernama joko kembang kuning berhasil menemukan sang dewi. meninggalkan raden kelono teridam menggagahi kekalahannya  di persinggahannya.

Sayangnya di pewayangan cinta itu aku seperti lakon raden kelono yang didepanmu seperti pemuda urakan, dengan ip pas pas-an, aku suka berorganisasi, suka kaderisasi, aku suka berbicara tentang politik dan kehidupan, dan jarang mandi, jangankan mandi pulang saja hampir tak pernah, tidur bagiku adalah kutukan karena tengah malam harus kuselesaikan tugas kuliah kita yang begitu banyaknya setidaknya aku masih mempertanggung jawabkan hidupku.

“tak ada masa depan” ujar teman temanmu ketika aku menyatakan cinta padamu

dulu, kau menolak cintaku dan pergi dengan pria yang sangat mapan hidupnya, anak orang kaya yang memakai CRV bapaknya kekampus. Meninggalkan aku yang mengunyah perih dimanisi pedih dihimpunan yang bau amis.

………


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s